Jumat, 27 Februari 2009

RENUNGAN


MENGKAJI INSURI KE DEPAN -
MEMBANGUN VISI DAN MISI MENUJU MASYARAKAT MADANI






Kamis, 26 Februari 2009

SEKILAS SEJARAH BERDIRINYA INSURI PONOROGO



I-N-S-U-R-I

BERLATAR MEGAHNYA BLOK M


INSURI

DILATAR BELAKANGI MEGAHNYA SIMBOL BLOK MKKKKTDTTTM...

.........................

SEKILAS BERDIRINYA INSURI PONOROGO
Dalam rangka melengkapi wadah pendidikan yang dikelola oleh Lembaga Pendidikan Ma'arif melalui badan otonom yang ditugasi Jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU) untuk menangani bidang pendidikan merencanakan berdirinya suatu Perguruan Tinggi dibawah naungan NU. Sejak tanggal 17 Mei 1967 tugas tersebut telah direncanakan dengan

mendirikan suatu Perguruan Tinggi dibawah naungan NU yang realisasinya dilimpahkan kepada Lembaga Pendidikan Ma'arief Cabang Ponorogo.Usaha untuk merintis berdirinya Perguruan Tinggi NU tersebut akhirnya dapat direalisasi dengan menginduk ke Universitas Nahdlatul Ulama Malang (UNU) dengan surat keputusan dari Rektor UNU Malang No. 205/D/UNU/VIII/68 tanggal 15 September 1968 tentang pengesahan berdirinya Fakultas Tarbiyah Watta’lim UNU Malang di Ponorogo.Pada tanggal 8 November 1968 diadakan upacara peresmian berdirinya Fakultas Tarbiyah Watta’lim UNU Malang di Ponorogo, sedangkan perkuliahannya dimulai pada tanggal 10 Februari 1969 dan untuk sementara menempati ( meminjam ) gedung SMA Negeri , yang berlokasi di Jalan Batoto Katong Ponorogo.Dalam musyarawah kerja penDosens Perguruan Tinggi NU se Jawa Timur dan Jawa Tengah tanggal 24 s/d 25 Juni 1972 maka nama UNU dirubah menjadi Universitas Sunan Giri dengan disingkat UNSURI dan sesuai dengan saran dari Rektor UNSURI Malang dan KOPERTAIS WILAYAH IV di Surabaya maka pada tanggal 20 Agustus 1974 Fakultas Tarbiyah Wattakim Universitas Sunan Giri Ponorogo mengajukan Status Terdaftar dan lepas dari UNSURI Malang . Pada tanggal 27 Desember 974, terbit Surat Keputusan Status TERDAFTAR dari Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor : KEP/D.IV/2229/74 untuk Fakultas Tarbiyah Universitas Sunan Giri Ponorogo.Bersamaan dengan pengajuan status terdaftar sebagai persyaratan Pendirian Perguruan Tinggi Swasta harus berbentuk Badan Pengelola atau Yayasan yang berbadan Hukum. Oleh karena itu NU cabang Ponorogo membentuk suatu Yayasan yang bernama "YAYASAN PERGURUAN TINGGI BATORO KATONG PONOROGO " dengan Akte Notaris RN Sinulinggo.SH. Nomor 17 tanggal 22 Agustus 1974.Selanjutnya dalam upaya meningkatkan kepercayaan kepada masyarakat maka UNSURI Ponorogo berupaya meningkatkan statusnya dari status terdaftar dalam Tingkat Sarjana Muda menjadi status DIAKUI Tingkat Sarjana Muda. Upaya tersebut berhasil dengan keluarnya Keputusan Menteri Agama No. 26 tahun 1978 tanggal 11 Mei 1978 tentang Status DIAKUI bagi Fakultas Tarbiyah Universitas Sunan Giri Ponorogo. Kemuadian untuk memenuhi tuntutan para alumninya yang jumlahnya sudah semakin banyak yang berminat untuk meningkatkan melanjutkan ke Tingkat Doktoral maka pada tahun akademik 1983 - 1984 telah dibuka Tingkat Doktoral . Namun oleh karena status tingkat doktoral yang diajukan tidak terkabul, maka para mahasiswa tingkat doktoral tersebut akhirnya di gabungkan dengan mahasiswa tingkat doktoral Fakultas Tarbiyah UNSURI Surabaya, yang pada tahun 1987 telah lulus 25 mahasiswa Sarjana Lengkap.Mulai tahun akademi 1987 - 1988 tingkat Sarjana Muda dihapuskan dilingkungan Perguruan Tinggi yang dibawah Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta Departemen Agama, sehingga status tersebut secara bertahap juga dihapus dan diubah menjadi jenjang Sarjana Strata 1 (S-1). Demikian juga status dilingkungan Fakultas Tarbiyah Universitas Sunan Giri Ponorogo, mulai tahun akademi 1987-1988 jenjangnya menjadi jenjang Sarjana Strata 1.Bersamaan berubahnya jenjang tersebut dikembangkan pula jumlah Fakultasnya yang semula hanya Fakultas Tarbiyah pada tahun akademik 1987-1988 dikembangkan menjadi 3 Fakultas yaitu Fakutas Tarbiyah, Fakultas Syari'ah dan Fakultas Dakwah,. Oleh karena fakultas yang ada hanya dalam satu disiplin ilmu yaitu ilmu-ilmu agama maka nama lembaga ini diubah menjadi Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo di singkat INSURI Ponorogo (SK Menteri Agama No. 219 Tahun 1988 tanggal 1 Desember 1988) dengan status Terdaftar.Sampai saat ini Fakultas Tarbiyah telah memiliki dua jurusan yaitu jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dan jurusan Pendidikan Bahasa Arab ( PBA) serta satu Program Diploma II Jurusan Pendidikan Dosen Taman Kanak-kanak Islam dan program Khusus Akta IV bagi Sarjana Agama bukan Tarbiyah. Untuk Jurusan PAI sekarang ini telah memiliki status Diakui dan pada tahun 2000 dengan SK BAN PT nomor : 017/BAN-PT/Ak-IV/VII/2000 Tanggal 21 Juli 2000 dinyatakan pula dengan status : TERAKREDITASI nilai B. Untuk Fakultas Dakwah juga dinyatakan dengan status TERAKREDITASI C . Fakultas Syariah perolehan Status Terdaftar masih relatif baru yaitu pada Tahun 2000, dengan jurusan Mu’amalat dan Program Studi Ekonomi Islam.Rektor sebagai pimpinan Institut pada tahun 1988 - 1996 dipegang oleh Drs. H. Adam Basori, tahun 1996 - 1998 Drs. H. Hery Aman Zainuri , tahun 1998 - 2002 Drs. Sugihanto Hasanuddin dan mulai tahun 2002 di jabat oleh Drs. H. Imam Sayuti Farid, SH, MSi. Sedangkan pimpinan Fakultas, untuk Tarbiyah dijabat oleh Drs. H.M.Syarwani Maksum, MAg, Dakwah : Drs.H.A. Choliq Ridwan dan Syari’ah : Drs. Farid Ma’ruf.Akte Notaris RN Sinulinggo, SH. No. 17 Tanggal 22 Agustus 1974, disempurnakan dengan akte perubahan dari Notaris Ny. Kustini Sosrokusumo, SH. No 4 tanggal 1 November 1988. Selanjutnya pada tahun 1996 Akte tersebut disempurnakan kembali dengan beberapa perubahan melalui Akte Notaris Hartati Hadiwiajaya,SH, tanggal 19 Agustus 1996, Nomor : C.221.HT.03 01 Tahun 1996.(http://www.ath-thoys.blogspot.com)



Rabu, 25 Februari 2009

MENGKAJI PERPUSTAKAAN "Ii Pustaka" INSURI PONOROGO


Ii Pustaka
Insuri Informatics Library

PERPUSTAKAANINSURI
MENUJU e-BOOK,INTERNATIONAL LIBRARY

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perpustakaan pada dewasa ini telah berkembang sedemikian pesatnya. Perkembangan perpustakaan dalam beberapa dasawarsa ini telah banyak dipengaruhi oleh perkembangan TI (Teknologi Informatika). Perpustakaan sebagai salah satu “aktor” yang berperan dalam pengumpulan, pengolahan dan pendistribusian informasi mau tidak mau harus berhadapan dengan apa yang dinamakan TI ini. Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa tanpa adanya sentuhan TI, perpustakaan dianggap sebagai sebuah instutisi yang ketinggalan jaman, kuno dan tidak berkembang.
Perpustakaan sebagai suatu organisasi yang memberikan media layanan kepada masyarakat memerlukan kesiapan petugas untuk mengemban tugas tersebut. Baik dan buruknya citra perpustakaan sangat ditentukan oleh baik dan buruknya jasa media layanan yang diberikan oleh perpustakaan yang bersangkutan. Seperti organisasi lainnya, perpustakaan dan organisasi informasi lainnya mempekerjakan banyak tipe orang yang berbeda watak, kebiasaan dan budayanya yang kemudian membentuk suatu kelompok.
Kepentingan ini yang mendorong perpustakaan untuk melakukan modernisasi pemedia layanan dan menerapkan TI dalam aktifitas kesehariannya. Tuntutan kepentingan-kepentingan yang sedemikian besar ini seakan menjadikan “cambuk” bagi perpustakaan untuk berbenah dan selalu berpikir untuk dapat memberikan yang terbaik melalui fasilitas TI ini.
B. Rumusan Permasalahan
Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas maka ditentukan rumusan masalahnya sebagai berikut :
1. Bagaimanakah peranan perpustakaan media pelayanan masyarakat?
2. Apakah kendala-kendala kuang optimalnya peran perpustakaan sebagai media?
3. Bagaimana upaya-upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan peran perpustakaan
C. Tujuan
Tujuan penulisan tugas ini untuk mengetahui :
1. Peranan perpustakaan sebagai media pelayanan masyarakat.
2. Kendala-kendala kurang optimalnya peran perpustakaan sebagai media
3. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan peran perpustakaan

BAB II
PERANAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI MEDIA

Dari berbagai sumber dan keterangan yang telah diuraikan di atas maka peranan perpustakaan dapat diuraikan secara terinci hubungannya dengan berbagai media, diantaranya adalah :
A. Peranan Perpustakaan sebagai Media
1. Perpustakaan Sebagai Media Pembelajaran
Berdasarkan pengamatan, sebenarnya kepentingan ini secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua yakni kepentingan institusi dan kepentingan pengguna perpustakaan. Dalam kasus perpustakaan di lingkungan perguruan tinggi, institusi yang dimaksud adalah perpustakaan itu sendiri dan universitas sebagai lembaga yang menaungi perpustakaan. Sedangkan pengguna perpustakaan yang dimaksud adalah sivitas akademika di lingkungan perguruan tinggi yakni mahasiswa, dosen, peneliti dan karyawan.
Perkembangan perpustakaan banyak dipengaruhi oleh visi dan misi yang di lembaga induknya. Sehingga apapun yang akan diterapkan dan dikembangkan oleh perpustakaan harus disesuaikan dengan tujuan organisasi atau institusi itu sendiri. Hanya terkadang apa yang menjadi kepentingan institusi sepertinya “belum berpihak” banyak kepada kepentingan pengguna. Belum lagi masalah prioritas, perpustakaan masih merupakan prioritas kesekian bagi lembaga induknya dalam hal pendanaan dan pengembangan.
Perkembangan perpustakaan dilihat dari kepentingan pengguna dirasakan belum menggembirakan. Masih banyak “tuntutan” pengguna yang belum dapat dipenuhi oleh perpustakaan, termasuk tersedianya akses media layanan berbasis TI ini. Untuk itu perlu kiranya dipikirkan sebuah sinergitas yang mengakomodasi kedua kepentingan tersebut sehingga terjadi keseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut.
Teknologi, dalam hal ini TI bukan merupakan hal yang murah. Untuk itu apabila perpustakaan ingin mengimplementasikan TI dalam media layanan dan aktifitasnya perlu direncanakan secara matang. Hal ini untuk mengantisipasi agar tidak ada kesia-siaan dalam perencanaan dan pengembangan yang berakibat pula pada pemborosan waktu, tenaga, pikiran dan keuangan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam rangka penerapan TI pada perpustakaan, yakni:
a. Dukungan Top Manajemen / Lembaga Induk
b. Kesinambungan / Kontinuitas
c. Perawatan dan Pemeliharaan
d. Sumber Daya Manusia
e. Infrastruktur Lainnya seperti Listrik, Ruang/Gedung, Furniture, Interior Design, Jaringan Komputer, dsbnya.
f. Pengguna Perpustakaan seperti faktor kebutuhan, kenyamanan, pendidikan pengguna, kondisi pengguna, dll
Hal-hal tersebut diatas akan menentukan sejauh mana penerapan TI di perpustakaan khususnya di media layanan perpustakaan dapat berjalan dengan baik.
Penerapan TI dalam bidang media layanan perpustakaan ini dapat dilihat dari beberapa hal seperti:
1). Media layanan Sirkulasi
Penerapan TI dalam bidang media layanan sirkulasi dapat meliputi banyak hal diantaranya adalah media layanan peminjaman dan pengembalian, statistik pengguna, administrasi keanggotaan, dll. Selain itu dapat juga dilakukan silang layan antar perpustakaan yang lebih mudah dilakukan apabila teknologi informasi sudah menjadi bagian dari media layanan sirkulasi ini. Teknologi saat ini sudah memungkinkan adanya self-services dalam media layanan sirkulasi melalui fasilitas barcoding dan RFID (Radio Frequency Identification). Penerapan teknologi komunikasipun sudah mulai digunakan seperti penggunaan SMS, Faksimile dan Internet.
2). Media layanan Referensi & Hasil-hasil Penelitian
Penerapan TI dalam media layanan referensi dan hasil-hasil penelitian dapat dilihat dari tersedianya akses untuk menelusuri sumber-sumber referensi elektronik / digital dan bahan pustaka lainnya melalui kamus elektronik, direktori elektronik, peta elektronik, hasil penelitian dalam bentuk digital, dan lain-lain.
3).Media layanan Journal / Majalah / Berkala
3Pengguna media layanan journal, majalah, berkala akan sangat terbantu apabila perpustakaan mampu menyediakan kemudahan dalam akses ke dalam journal-journal elektronik, baik itu yang diakses dari database lokal, global maupun yang tersedia dalam format Compact Disk dan Disket. Bahkan silang layan dan media layanan penelusuran informasipun bisa dimanfaatkan oleh pengguna dengan bantuan teknologi informasi seperti internet.
4).Media layanan Multimedia / Audio-Visual

Media layanan multimedia / audio-visual yang dulu lebih dikenal sebagai media layanan “non book material” adalah media layanan yang secara langsung bersentuhan dengan TI. Pada media layanan ini pengguna dapat memanfaatkan teknologi informasi dalam bentuk Kaset Video, Kaset Audio, MicroFilm, MicroFische, Compact Disk, Laser Disk, DVD, Home Movie, Home Theatre, dll. Media layanan ini juga memungkinkan adanya media interaktif yang dapat dimanfaatkan pengguna untuk melakukan pembelajaran, dsbnya. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam media layanan perpustakaan adalah pengguna yang mempunyai keterbatasan, seperti penglihatan yang kurang, buta, pendengaran yang kurang dan ketidakmampuan lainnya. Media layanan Multimedia / Audio-Visual memungkinkan perpustakaan dapat memberikan pemedia layanan kepada para pengguna dengan kriteria ini. Sebagai contoh dari bentuk penerapan teknologi untuk itu adalah Audible E-books, Digital Audio Books, InfoEyes (Virtual Reference), Braille, dsbnya.

5).Media layanan Internet & Computer Station
Internet saat ini menjadi “bintang” dalam TI (Teknologi Informatika). Orang sudah tidak asing lagi untuk menggunakan internet dalam kehidupannya. Untuk itu mau tidak mau perpustakaanpun harus dapat memberikan media layanan melalui media ini. Melalui media web perpustakaan memberikan informasi dan media layanan kepada penggunanya. Selain itu perpustakaan juga dapat menyediakan akses internet baik menggunakan computer station maupun WIFI / Access Point yang dapat digunakan pengguna sebagai bagian dari media layanan yang diberikan oleh perpustakaan. Pustakawan dan perpustakaan juga bisa menggunakan fasiltas web-conferencing untuk memberikan media layanan secara online kepada pengguna perpustakaan. Web-Conferencing ini dapat juga dimanfaatkan oleh bagian media layanan informasi dan referensi. OPAC atau Online Catalog merupakan bagian penting dalam sebuah perpustakaan, untuk itu perpustakaan perlu menyediakan akses yang lebih luas baik itu melalui jaringan lokal, intranet maupun internet.

6).Keamanan
Teknologi informasi juga dapat digunakan sebagai alat untuk memberikan kenyamanan dan keamanan dalam perpustakaan. Melalui fasilitas semacam gate keeper, security gate, CCTV dan lain sebagainya, perpustakaan dapat meningkatkan
4
keamanan dalam perpustakaan dari tangan-tangan jahil yang tidak asing sering terjadi dimanapun.
7).Pengadaan
Bagian Pengadaan juga sangat terbantu dengan adanya teknologi informasi ini. Selain dapat menggunakan TI untuk melakukan penelusuran koleksi-koleksi perpustakaan yang dibutuhkan, bagian ini juga dapat memanfaatkannya untuk menampung berbagai ide dan usulan kebutuhan perpustakaan oleh pengguna. Kerjasama pengadaan juga lebih mudah dilakukan dengan adanya TI ini.

2. Perpustakaan Sebagai Media Pengembangan Budaya Baca Di Indonesia
Sekalipun perpustakaan telah melakukan upaya untuk menumbuhkembangkan budaya baca, namun hasilnya belum nampak di masyarakat. Penerapan teknologi informasi juga telah banyak di implementasikan dalam operasional perpustakaan baik pengembangan otomasi perpustakaan maupun pengembangan perpustakaan digital agar perpustakaan tidak ketinggalan dengan kemajuan teknologi informasi. Upaya pengembangan perpustakaan umum sekarang sudah mulai digalakkan. Peningkatan budaya baca memang bukan pekerjaan mudah, memerlukan perjuangan dan hasilnya hanya dapat dinikmati dalam jangka panjang. Karena begitu pentingnya peran perpustakaan dalam pengembangan budaya baca, maka jalan terbaik agar kita dapat berpartisipasi dalam pengembangan budaya baca adalah dengan cara mencintai perpustakaan.
Untuk mencintai perpustakaan kita harus mengenal terlebih dahulu apa itu perpustakaan dan apa pula fungsi perpustakaan ? Menurut Suwondo Atmodjahnawi:
Perpustakaan dapat didefinisikan sebagai tempat penyimpanan koleksi bahan pustaka, yang diolah dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu untuk digunakan oleh pemakainya sebagai sumber informasi.. Sedangkan fungsinya adalah : Sebagai media pendidikan dan pengajaran (Education) Sebagai media rekreasi (Recreation)Sebagai gudang ilmu pengetahuan dan sarana penelitian (Science and research) Sebagai sumber informasi (Information) Sebagai sarana dokumentasi (Documentation). (Atmodjahnawi, 1989)

Dengan mengenal lebih jauh tentang perpustakaan oleh semua pihak yang berkepentingan diharapkan mereka dapat lebih mencintai perpustakaan.
53. Perpustakaan Sebagai Media Pusat Produksi Literasi Daerah
7Menurut sejarah, tradisi penulisan, yang sekaligus mengindikasikan kesadaran membaca, pernah muncul di sekitar abad 19. Kita misalnya mengenal Parada Harahap, yang menerbitkan surat kabar Sinar Merdeka di Padang Sidempuan pada 1919. Selain dikenal sebagai wartawan yang kerap keluar masuk tahanan akibat tulisannya yang menyerang pemerintah kolonial Belanda, Parada Harahap juga produktif menulis buku. Diantaranya yang mashur adalah Journalistic in Indie yang terbit tahun 1924, dan Journalistic in America yang terbit tahun 1925. Parada juga menerbitkan buku Dari Pantai ke Pantai yang merupakan kumpulan laporan perjalanannya ke pusat-pusat perkebunan rakyat di Jambil, Palembang, Sumatera Barat, Rapanuli dan Sumatera Timur.
Wartawan yang juga penulis buku produktif lain misalnya Mohammad Said, salah seorang pendiri Waspada, sekaligus intelektual otodidak yang mempunyai sejumlah karya monumental: Aceh Sepanjang Abad (dua jilid), Koeli kontrak, Medan Area Mengisi Proklamasi, Sejarah Pers di Sumatera Utara Dengan Masyarakat Yang Dicermatinya (1885 – Maret – 1942), Soetan Koemala Boelan (Flora), Raja Pemimpin rakyat, wartawan, Penentang Kezaliman Belanda masa 1912-1932 dsb.
Namun produksi karya-karya intelektual tersebut seolah terputus begitu saja. Berbagai narasi budaya dan peradaban yang lahir dari warga masyarakat yang beragam, kini justru dieksploitasi dan dijadikan objek kajian para peneliti atau intelektual dari berbagai daerah. Akibatnya banyak narasi sejarah kontemporer yang terjadi di daerah-daerah, justru harus diakses di perpustakaan-perpustakaan universitas luar negri. Akibatnya tidak jarang sejumlah anak muda dari suku dan budaya tertentu harus mempelajari budaya mereka sendiri dari orang lain. Bahkan tragisnya dari sarjana asing yang notebene bukan berasal dari peradaban yang subjek yang ditulisnya.
Jika fungsi seleksi dan penerbitan karya-karya intelektual warga masyarakat daerah bisa difasilitasi Perpustakaan dan Arsip Daerah, maka penerjemahan fungsi arsip tidak lagi sekedar bersifat pasif, tapi aktif. Barangkali ini merupakan sumbangan terbesar yang bisa diperbuat oleh pengelola Perpustakaan dan Arsip daerah masing-masing
Fuad mengungkapkan, idealnya perpustakaan sekolah berisi buku pendamping. Buku juga harus lebih spesifik, yakni yang dibutuhkan anak untuk menunjang kegiatan belajar-mengajar tetapi sulit diakses anak, baik karena harga mahal atau terbatas. Sekolah tidak perlu ragu pula untuk menarik minat anak datang ke perpustakaan dengan menyediakan buku fiksi, komik, dan cerita rakyat yang bermuatan nilai positif.

3. Perpustakaan Sekolah Sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan

Perpustakaan adalah sumber informasi yang menyediakan segala keperluan bagi masyarakat pemakainya. Fungsi perpustakaan sekolah tidak hanya sebagai sumber kegiatan belajar mengajar, tapi juga pusat penelitian sederhana, dan rekreasi. Eksistensi sebuah perpustakaan di sekolah merupakan suatu hal yang wajib ada dalam sebuah lembaga atau lingkungan pendidikan. Perpustakaan merupakan gudangnya ilmu dan informasi bacaan, baik yang berkaitan dengan dunia pendidikan maupun pengetahuan umum sehingga keberadaan perpustakaan memegang peranan yang sangat penting
Rata-rata siswa melakukan kegiatan membaca pada saat belajar saja, di luar itu edikit sekali yang suka membaca buku lain. Ada juga yang tidak membaca sama sekali. Hal tersebut dapat disebabkan berbagai faktor, baik secara pribadi maupun secara umum. Secara pribadi, biasanya, berkaitan dengan kurangnya motivasi dalam diri siswa untuk menanamkan bahwa membaca itu suatu kegiatan yang perlu dan bermanfaat. Secara umum, faktor yang sangat berpengaruh besar adalah lingkungan sekitar siswa yang memang jauh dari kebiasaan atau budaya membaca. Ada seorang pakar yang mengatakan, kurangnya minat baca siswa tersebut disebabkan kesalahan metode atau cara membaca yang ia pelajari sejak kecil. Dengan adanya perpustakaan sekolah diharapkan dapat meningkatkan minat baca siswa. Sebab di dunia pendidikan, perpustakaan sekolah merupakan jantungnya informasi yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kualitas pendidikan. Perpustakaan merupakan sumber belajar yang sangat penting, dan bertugas sebagai media penyampai publikasi kekayaan intelektual dan sarana pendukung kegiatan pendidikan. Namun, semua itu hanya akan menjadi dilema, manakala perpustakaan sekolah tidak dikelola dengan baik. Terlebih lagi apabila suasana perpustakaan tersebut tidak menarik. Jangankan untuk membaca, sekadar singgah saja mungkin siswa sudah enggan sehingga eksistensi sebuah perpustakaan dianggap seperti ruang kosong dan fungsinya sebagai gudang ilmu menjadi terabaikan
Jadi, bagaimana solusinya agar perpustakaan sekolah lebih berkembang, dan dapat dimanfaatkan warga sekolah? Menurut Zulfikar Zein, M.A. (dosen Ilmu Perpustakaan UI), ada 3 pilar utama yang memperkokoh perpustakaan sekolah, yaitu:
a.
7Pemakai; perpustakaan akan tetap eksis dan berkembang jika pemakainya, dalam hal ini warga sekolah, aktif dan disiplin.
b. Pustakawan; memiliki sikap tulus hati, ramah, berpikiran positif, supel, pro aktif, dedikatif, dan profesional.
c. Koleksi; banyak, lengkap dan beragam.
Ketiga pilar itu akan makin kokoh jika kepala sekolah sebagai orang pertama di Sekolah beserta dewan sekolah dan semua pihak pemegang otoritas pendidikan bersama-sama, berpikir, berencana dan bertindak dalam meningkatkan kualitas perpustakaan sekolah. Peningkatan anggaran, pengembangan koleksi dan penyediaan tempat yang ideal mutlak dilakukan.
Selain itu, tentunya dukungan dari pemerintah pun sangat diperlukan. Apalagi
dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional Pasal 37 Ayat 1 disebutkan, sarana dan prasarana pendidikan (dalam penjelasan dikemukakan bahwa salah satu sarana yaitu perpustakaan sekolah) harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Ditambah pada Pasal 45 berbunyi: tiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan emosional, dan kejiwaan peserta didik.

B. Beberapa Faktor Yang Menyebabkan Kurang Optimalnya Penggunaan Perpustakaan Sebagai Media

Dalam rangka untuk mengoptimalkan perpustakaan di sekolah di berbagailembaga mengalami berbagai faktor kendala diantaranya adalah :
1. Koleksi Buku Perpustakaan yang Kurang Menarik
8
11Salah satu upaya pengembangan minat dan kegemaran membaca adalah dengan adanya pengadaan buku. buku merupakan salah satu syarat mutlak yang diperlukan untuk pengembangan program ini, khususnya bagi anak-anak kecil yang tentunya belum begitu banyak mengenal teknologi informasi. Artinya, bahwa fungsi buku memberikan tempat tersendiri bagi perkembangan anak. hal inilah yang kemudian berimplikasi pada semakin maraknya industri perbukuan/penerbit di Indonesia secara khusus dan dunia perbukuan secara global. Namun Pada kenyataannya Koleksi perpustakaan sekolah, banyak buku yang tidak bisa dimanfaatkan, atau bahkan tidak bisa digunakan sama sekali. Untuk daerah-daerah terpencil buku-buku yang ada sudah sangat usang bahkan mungkin dengan melihat kondisi bukunya sudah tidak layak di baca. Hal lain yang menjadi masalah dari pemanfaatan buku perpustakaan adalah buku buku pelajaran yang dapat mendudkung prestasi akademik siswa. Buku-buku yang tersedia dari Depdiknas banyak yang tidsk sesuai dengan kurikulum . karena kita tahu penggantian kurikulum sangat sering terjadi tetapi untuk revisi Buku yang terbitan Depdiknas sangat lamban. Sehingga hal ini menyebabkan buku yang tersedia kurang optimal untuk digunakan. Akhirnya sebagian guru/ pengajar memilih buku-buku dari penerbit (swasta), sebagai acuan dalam proses KBM (kegiatan belajar mengajar). Hal ini bagi peserta didik yang orang tuanya mampu tentu tidak menjadi masalah, tapi bagaimana dengan mereka yang dari golongan tak mampu? Faktor lain yang juga dapat menjadi salah satu kendala kurangnnya minat siswa untuk datang ke perpustakaan adalah jenis koleksi buku. Tentunya semua orang juga tahu, bahwa buku yang paling menarik perhatian siswa untuk dibaca adalah buku jenis fiksi seperti novel dan komik. Dengan melihat fungsi perpustakaan sebagai tempat rekreasi atau refresing sangatlah cocok jika di perpustakaan disediakan buku-buku yang dapat membuat siswa bahagia dan senang. Jadi, Perpustakaan sekolah jangan merasa takut untuk memuat selain buku-buku pelajaran, juga hendaknya memuat buku-buku yang digemari siswa (remaja) masa kini. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Josette Frank dalam bukunya "Orangtua, Anak, dan Buku" lebih senang membaca dari suatu buku yang telah membuatnya bahagia. Buku-Detektif Conan”, buku seri dsb.
Pada awalnya, siswa mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku yang dia senangi seperi novel dan komik, namun pada akhirnya kalau minat baca sudah tumbuh maka dia akan senang membaca buku jenis apapun. Yang perlu kita perhatikan sebagai pustakawan, bagaimana cara membatasi anak untuk tidak selalu membaca buku jenis novel dan komik. Dari salah satu sumber yang menulis artikel tentang perpustakaan di suatu sekolah di Bandung, untuk membatasi pembacaan seputar novel dan komik, maka setiap anak harus membayar layaknya di tempat penyewaan buku.

2. Kondisi Ruangan yang Kurang Memadai
9 Kondisi ruangan yang kurang memadai pun merupakan salah satu masalah yang menghambat kurangnya minat dalam menggunakan perpustakaan di kalangan siswa. Dengan melihat ruangan yang kecil, sumpek dan berdebu, siapapun orangnya pasti tidak akan mau untuk masuk ruangan tersebut. Ironisnya, banyak perpustakaan sekolah di Indonesia yang masih seperti itu, baik ukuran luasnya maupun fasilitasnya. Banyak perpustakaan sekolah yang luasnya sama dengan ruang belajar, tidak memiliki kursi dan meja baca yang layak. Bahkan ada yang disaturuangkan dengan organisasi lain. Seperti yang terjadi di salah satu daerah terpencil dimana ruangan yang tersedia hanya berukuran 3X4m dengan lampu penerangan apa adanya. Agak miris membayangkan mata yang akan rusak akibat membaca di keremangan. Di sudut kota kecil lain di Jawa, perpustakaan sekolah adalah sebuah ruang 3X4 m2 yang dibuka ketika ada yang ingin mengunjunginya.
Buku-bukunya pun sudah berdebu dan ada bekas sarang laba-laba disitu menandakan sangat jarangnya rak-rak itu dijamah. Dengan melihat kondisi seperti itu, maka jauh dari harapan bahwa perpustaakan dikatakan sebagai sumber ilmu pengetahuan. Untuk itu, perpustakaan sekolah perlu mendapatkan tempat yang terhormat dalam dunia pendidikan nasional. Tapi Mengapa sampai saat ini perpustakaan sekolak tak juga mendapatkan “tempat dihati” para siswa dan yang paling penting adalah pemerintah selaku pihak yang dapat memberikan peranan penting dalam pengadaan baik dalam pengadaan ruangan, fasilitas ataupun dalam pengadaan koleksi buku. Menurut Fuad Hasan (2001), (1) dari 200.000 Sekolah Dasar hanya sekitar 1 (satu) persen yang memiliki perpustakaan standar, (2) dari sekitar 70.000 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) baru 34 % yang memiliki perpustakaan standar, (3) dari sekitar 14.000 Sekolah Menengah Umum hanya sekitar 54 % yang memiliki perpustaakaan standar.
10 Jadi bagaimana mungkin memberikan pelayanan informasi yang maksimal dan ideal bagi remaja jika kondisi perpustakaan sekolah saja belum cukup memadai, terkadang juga perpustakaan kondisi tempatnya yang lebih mirip gudang penyimpanan buku karena yang tersedia umumnya buku – buku teks, buku paket atau buku pelajaran yang didrop dari pusat. Kadang sebuah perpustakaan memiliki ribuan buku dengan judul yang sangat minim dan tata ruang yang sangat kumuh dan seadanya. Selain permasalahan fasilitas perpustakaan yang begitu kompleks ada juga permasalahn yang begitu rumit dicari solusinya yakni masalah perkembangan teknologi telekomnikasi, informatika dan broadcasting . akibatnya kita lebih senang nonton daripada membaca. Makin rumitnya permasalahan tersebut berakibat makin sulitnya kalangan remaja untuk datang ke perpustakaan dan menikmati layanan informasi didalamnya. Padahal Sejarah membuktikan bahwa awal adanya sebuah kemajuan dan perubahan sosial dimulai dari adanya aktifitas keilmuan di perpustakaan, yang kemudian lahirlah ilmuwan – ilmuwan yang ahli di bidang tertentu dan pada akhirnya berdirilah institusi pendidikan dengan perpustakaan yang merupakan bagian darinya
103. Pustakawan yang kurang profesional
Faktor yang ketiga yang melatar belakangi rendahnya pengunjung Perpustakaan adalah kurangnya pelayanan yang dalam hal ini adalah salah satu tugas pustakawan. Banyak sekolah-sekolah yang menempatkan orang sebagai pustakawan yang kurang memiliki pengetahuan tentang pengelolaan perpustakaan. Hal tersebut dapat menyebabkan kurangnya pelayanan sehingga mengakibatkan siswa enggan untuk berkunjung ke perpustakaan. Banyak perpustakaan yang mempunyai banyak buku tetapi administrasinya kurang baik, misalnya saja buku tidak dklasifikasikan . Hal ini akan menyulitkan para pembaca untuk mencari sumber buku yang diinginkan.
Peran pustakawan sekolah berbeda dengan pustakawan umum. Pustakawan sekolah hendaknya memiliki wawasan kependidikan, yaitu dalam mengelola perpustakaan lebih diarahkan kepada fungsi kependidikan.
Pustakawan sekolah tidak hanya mengerjakan tugas "standar" seperti labeling, tetapi juga akuisisi, klasifikasi, membuat katalog/kartu indeks, dapat memahami keinginan pengunjung atau mengerti psikologi siswa.

C. Upaya-Upaya Yang Dapat Dilakukan Untuk Menanggulangi Kurang Optimalnya Penggunaan Perpustakaan

Upaya-upaya yang mungkin dapat dilakukan untuk mengoptimalkan penggunaan perpustakaan, hal yang sangat penting adalah adanya perhatian dari pemerintah. Karena pada umumnya sekolah-sekolah yang belum mempunyai perpustakaan sekolah yang memadai selalu saja terhambat dengan masalah dana. Untuk itu, seyogyanya pemerintah mengalokasikan dana khusus untuk sekolah-sekolah yang masih belum mempunyai perpustakaan atau perpustakaan yang ada belum layak.
11 Sedangakan pengadaan koleksi buku-buku selain dana yang dari pemerintah, pihak pengelola perustakaan harus sedikit kreatif untuk mengadakan buku-buku yang dapat menarik perhatian siswa. Seperti yang telah dilakukan di salah satu SMA di Bandung, pihak pengelola dan siswa dapat kerjasama, yaitu salah satunya siswa disuruh untuk menjual coklat yang kemudian keuntungannya dialokasikan untuk membeli buku-buku yang mereka inginkan. Kalau kita tinjau dari jenis buku-buku yang ada di perpustakaan, disarankan disamping koleksi non fiksi seperti ensiklopedi dan koleksi suplemen tambahan.
Selanjutnya, agar pustakawan lebih optimal dalam pelayanannya, maka hendaknya sering diadakan pelatihan tentang ilmu perpustakaan. Selain itu, agar perpustakaan lebih optimal lagi, yang melakukan pelatihan tidak saja pustakawan tetapai alangkah baiknya jika kepala sekolah, dan guru juga sekalai-sekali mengikuti pelatihan tersebut.



























12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa :
1. Perpustakaan sebagai media memiliki peran sangat penting antara lain a) Media Pembelajaran meliputi Media layanan Sirkulasi, Referensi & Hasil-hasil Penelitian, Journal / Majalah / Berkala, Multimedia / Audio-Visual, layanan Internet & Computer Station, Keamanan, Pengadaan b). Media Pengembangan Budaya Baca Di Indonesia c). Media Pusat Produksi Literasi Daerah d). Sumber Ilmu Pengetahuan.
2. Kurang optimalnya penggunaan perpustakaan sekolah oleh siswa, rendahnya minat baca siswa, kurangya koleksi buku perpustakaan atau buku yang ada berkiasar tentang buku-buku pelajaran saja, selain itu, kondisi ruangan yang kurang nyaman dan petugas perpustakaan yang kurang profesional.
3. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan peran perpustakaan adalah adanya usaha pemerintah untuk lebih memperhatikan terhadap nilai pentngnya perpustakaan, melengkapi sarana dan prasarana perpustakaan yang memadai, penambahan alokasi anggaran khususnya perpustakaan sekolah, penambahan buku-buku bacaan penunjang pendidikan, peningkatan kualitas tenaga pustakawan, peningkatan layanan perpustakaan melalui teknologi informatika.
B. Saran- saran
Dari kesimpulan di atas selanjutnya disarankan :
1. Kepada para pengelola lembaga khususnya lembaga pendidikan diharapkan lebih memperhatikan unit perpustakaan di sekolah dan tidak sekedar berkesan sebagai pelengkap struktur saja.
2. Bagi sekolah yang telah mengelola perpustakaan disarankan untuk menggunakan teknologi informasi dan alikasi teknologi perpustakaan on-line untuk menjaring informasi global yang sekarang telah dapat dibuka di setiap situs internet.
3. Pemerintah Daerah dan pusat disarankan untuk lebih berorientasi dalam penyelenggaraan fungsi perpustakaan dalam meningkatkan layanan dan media pendidikan secara universal.


13
Rujukan :

Campbell, Jane E. 1997. Kepustakawanan dalam abad informasi; suatu konsep yang
usang? Makalah dalam Seminar Peranan Perpustakaan pada Abad ke-21 di Medan.

Creth, Sheila D. 1996. The electronic library: slouching toward the future or creating a new information environment. Follet Lecture Series.

http://www.ukoln.ac.uk/follet/creth/paper.html

Nur,
Hassan Kompas • Jakarta,– March 29, 2007

Nursalam, Toha : 2007 : Psikologi Perpustakaan.www.artikelperpustakaan

Perpustakaan Nasional RI, 1992:Panduan Koleksi Perpustakaan Khusus, Jakarta:.
PT. BPK Gunung Mulya

Rowley, Jennifer E. 1987. Organising knowledge; an introduction to information

Siregar, A. Ridwan.2008.Program Studi Perpustakaan dan Informasi Universitas Sumatera Utara
ridwan@library.usu.ac.id


MERENUNGI RIP MENUJU INSURI MAJU


MEMBUKA KEMBALI RIP(Rencana Induk Pengembangan) INSURI
menggelitik untuk mengkaji ulang dan menanalisis perkembangan selama ini yang telah diraih. Karenanya perlu mencermati delik-delik celah sisi kecil yang perlu disentuh dengan tangan manis manajerial-nya. Mahasiswa adalah aset yang menjadi merah kuning hijau dan bak pelangi untuk membawa langkah ke depan menuju terbukanya jalan menuju banda kampus yang semakin memancarkan harapan kemajuan
Kita tengok sejenak dan berkontemplasi untuk duduk bersama memikirkan langkah-langkah progresif untuk menapak kulminasi emas INSURI
Ingat.............mars INSURI TETAPLAH JAYA................atau hymne............JASAMU ABADI...........



BAB I
P E N D A H U L U A N
A. SEJARAH SINGKAT
Dalam rangka melengkapi wadah pendidikan yang dikelola oleh Lembaga Pendidikan Ma'arif melalui badan otonom yang ditugasi Jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU) untuk menangani bidang pendidikan merencanakan berdirinya suatu Perguruan Tinggi dibawah naungan NU. Sejak tanggal 17 Mei 1967 tugas tersebut telah direncanakan dengan

mendirikan suatu Perguruan Tinggi dibawah naungan NU yang realisasinya dilimpahkan kepada Lembaga Pendidikan Ma'arief Cabang Ponorogo.
Usaha untuk merintis berdirinya Perguruan Tinggi NU tersebut akhirnya dapat direalisasi dengan menginduk ke Universitas Nahdlatul Ulama Malang (UNU) dengan surat keputusan dari Rektor UNU Malang No. 205/D/UNU/VIII/68 tanggal 15 September 1968 tentang pengesahan berdirinya Fakultas Tarbiyah Watta’lim UNU Malang di Ponorogo.
Pada tanggal 8 November 1968 diadakan upacara peresmian berdirinya Fakultas Tarbiyah Watta’lim UNU Malang di Ponorogo, sedangkan perkuliahannya dimulai pada tanggal 10 Februari 1969 dan untuk sementara menempati ( meminjam ) gedung SMA Negeri , yang berlokasi di Jalan Batoto Katong Ponorogo.
Dalam musyarawah kerja penDosens Perguruan Tinggi NU se Jawa Timur dan Jawa Tengah tanggal 24 s/d 25 Juni 1972 maka nama UNU dirubah menjadi Universitas Sunan Giri dengan disingkat UNSURI dan sesuai dengan saran dari Rektor UNSURI Malang dan KOPERTAIS WILAYAH IV di Surabaya maka pada tanggal 20 Agustus 1974 Fakultas Tarbiyah Wattakim Universitas Sunan Giri Ponorogo mengajukan Status Terdaftar dan lepas dari UNSURI Malang . Pada tanggal 27 Desember 974, terbit Surat Keputusan Status TERDAFTAR dari Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor : KEP/D.IV/2229/74 untuk Fakultas Tarbiyah Universitas Sunan Giri Ponorogo.
Bersamaan dengan pengajuan status terdaftar sebagai persyaratan Pendirian Perguruan Tinggi Swasta harus berbentuk Badan Pengelola atau Yayasan yang berbadan Hukum. Oleh karena itu NU cabang Ponorogo membentuk suatu Yayasan yang bernama "YAYASAN PERGURUAN TINGGI BATORO KATONG PONOROGO " dengan Akte Notaris RN Sinulinggo.SH. Nomor 17 tanggal 22 Agustus 1974.
Selanjutnya dalam upaya meningkatkan kepercayaan kepada masyarakat maka UNSURI Ponorogo berupaya meningkatkan statusnya dari status terdaftar dalam Tingkat Sarjana Muda menjadi status DIAKUI Tingkat Sarjana Muda. Upaya tersebut berhasil dengan keluarnya Keputusan Menteri Agama No. 26 tahun 1978 tanggal 11 Mei 1978 tentang Status DIAKUI bagi Fakultas Tarbiyah Universitas Sunan Giri Ponorogo. Kemuadian untuk memenuhi tuntutan para alumninya yang jumlahnya sudah semakin banyak yang berminat untuk meningkatkan melanjutkan ke Tingkat Doktoral maka pada tahun akademik 1983 - 1984 telah dibuka Tingkat Doktoral . Namun oleh karena status tingkat doktoral yang diajukan tidak terkabul, maka para mahasiswa tingkat doktoral tersebut akhirnya di gabungkan dengan mahasiswa tingkat doktoral Fakultas Tarbiyah UNSURI Surabaya, yang pada tahun 1987 telah lulus 25 mahasiswa Sarjana Lengkap.
Mulai tahun akademi 1987 - 1988 tingkat Sarjana Muda dihapuskan dilingkungan Perguruan Tinggi yang dibawah Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta Departemen Agama, sehingga status tersebut secara bertahap juga dihapus dan diubah menjadi jenjang Sarjana Strata 1 (S-1). Demikian juga status dilingkungan Fakultas Tarbiyah Universitas Sunan Giri Ponorogo, mulai tahun akademi 1987-1988 jenjangnya menjadi jenjang Sarjana Strata 1.
Bersamaan berubahnya jenjang tersebut dikembangkan pula jumlah Fakultasnya yang semula hanya Fakultas Tarbiyah pada tahun akademik 1987-1988 dikembangkan menjadi 3 Fakultas yaitu Fakutas Tarbiyah, Fakultas Syari'ah dan Fakultas Dakwah,. Oleh karena fakultas yang ada hanya dalam satu disiplin ilmu yaitu ilmu-ilmu agama maka nama lembaga ini diubah menjadi Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo di singkat INSURI Ponorogo (SK Menteri Agama No. 219 Tahun 1988 tanggal 1 Desember 1988) dengan status Terdaftar.
Sampai saat ini Fakultas Tarbiyah telah memiliki dua jurusan yaitu jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) dan jurusan Pendidikan Bahasa Arab ( PBA) serta satu Program Diploma II Jurusan Pendidikan Dosen Taman Kanak-kanak Islam dan program Khusus Akta IV bagi Sarjana Agama bukan Tarbiyah. Untuk Jurusan PAI sekarang ini telah memiliki status Diakui dan pada tahun 2000 dengan SK BAN PT nomor : 017/BAN-PT/Ak-IV/VII/2000 Tanggal 21 Juli 2000 dinyatakan pula dengan status : TERAKREDITASI nilai B. Untuk Fakultas Dakwah juga dinyatakan dengan status TERAKREDITASI C . Fakultas Syariah perolehan Status Terdaftar masih relatif baru yaitu pada Tahun 2000, dengan jurusan Mu’amalat dan Program Studi Ekonomi Islam.
Rektor sebagai pimpinan Institut pada tahun 1988 - 1996 dipegang oleh Drs. H. Adam Basori, tahun 1996 - 1998 Drs. H. Hery Aman Zainuri , tahun 1998 - 2002 Drs. Sugihanto Hasanuddin dan mulai tahun 2002 di jabat oleh Drs. H. Imam Sayuti Farid, SH, MSi. Sedangkan pimpinan Fakultas, untuk Tarbiyah dijabat oleh Drs. H.M.Syarwani Maksum, MAg, Dakwah : Drs.H.A. Choliq Ridwan dan Syari’ah : Drs. Farid Ma’ruf.
Akte Notaris RN Sinulinggo, SH. No. 17 Tanggal 22 Agustus 1974, disempurnakan dengan akte perubahan dari Notaris Ny. Kustini Sosrokusumo, SH. No 4 tanggal 1 November 1988. Selanjutnya pada tahun 1996 Akte tersebut disempurnakan kembali dengan beberapa perubahan melalui Akte Notaris Hartati Hadiwiajaya,SH, tanggal 19 Agustus 1996, Nomor : C.221.HT.03 01 Tahun 1996.
B. PROGRAM PENGEMBANGAN

Program Pengembangan Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo, mengacu pada program standar pendidikan yang dicanangkan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional melalui Bagian keempat pasal 19 – 25.
Rencana Pengembangan Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan Insuri yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumberdaya yang tersedia.
RIP adalah dokumen tentang gambaran kegiatan pendidikan di masa depan dalam rangka untuk mencapai perubahan/tujuan Insuri yang telah ditetapkan.
Tujuan (baku) adalah rumusan mengenai apa yang diinginkan pada kurun waktu tertentu, Sedangkan sasaran/tujuan situasional adalah rumusan spesifik mengenai apa yang diinginkan pada kurun waktu tertentu dengan memperhitungkan tantangan nyata yang dihadapi.
Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan;
Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan olehlembaga pendidikan untuk mencapai tujuan.
RIP disusun dengan tujuan untuk:
1. menjamin agar perubahan/tujuan pendidikan yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan tingkat kepastian yang tinggi dan resiko yang kecil;
2. mendukung koordinasi antar pelaku pendidikan;
3. menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi antar pelaku pendidikan.
4. menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan;
5. mengoptimalkan partisipasi civitas akademika dan masyarakat.
6. menjamin tercapainya penggunaan sumber-daya secara efisien, efektif, berkeadilan dan berkelanjutan.
Penyusunan RIP menerapkan prinsip-prinsip: memperbaiki prestasi belajar, membawa perubahan yang lebih baik (peningkatan/ pengembangan), sistematis, terarah, terpadu (saling terkait & sepadan), menyeluruh, tanggap terhadap perubahan, demand driven (berdasarkan kebutuhan), partisipasi, keterwakilan, transparansi, data driven, realistik sesuai dengan hasil analisis SWOT, dan mendasarkan pada hasil review dan evaluasi.

Tahap-tahap Penyusunan RIP
1. Melakukan analisis lingkungan strategis kampus
2. Melakukan analisis situasi untuk mengetahui status situasi pendidikan saat ini
3. Memformulasikan pendidikan yang diharapkan di masa mendatang
4. Mencari kesenjangan antara butir 2 & 3
5. Menyusun rencana strategis
6. Menyusun rencana tahunan
7. Melaksanakan rencana tahunan
8. Memonitor dan mengevaluasi



1.VISI :
“TERBENTUKNYA SARJANA MUSLIM YANG BERKUALITAS, BERAKHLAKUL KARIMAH,SERTA MAMPU MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN ”


Visi Insuri disusun dengan mengacu pada kaidah-kaidah standar pendidikan tingi yang dikembangkan ke dalam indikator-indikator untuk memenuhi standar pendidikan nasional dengan penjabaran program sebagai berikut :
a.
7Program Pengembangan Kualitas Pendidikan, meliputi:
1). Terwujudnya pengembangan fakultas, jurusan dan program studi baru
2). Terwujudnya pengembangan kurikulum dan silabus inti dan institusional yang relevan
3). Terlaksananya proses perkuliahan yang aktif, kreatif, efektif, inovatif dan menyenangkan
4). Unggul dalam prestasi akademik dan non akademik
5). Terwujudnya standart penilaian pendidikan yang akuratif

b. Program Pengembangan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat
1). Terlaksananya kegiatan penelitia
2). Terlaksananya kegiatan pengabdian pada masyarakat

c. Program Peningkatan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
1). Terwujudnya profesionalisme tenaga edukatif
2). Berkembangnya kinerja administrasi akademik dan perkantoran
3). Berkembangnya kinerja tenaga penunjang akademik dan staf pelaksana yang trampil
4). Unggul dalam manajemen lembaga yang prospektif



d. Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Insuri
Meningkatnya Sarana dan Prasarana Insuri yang representatif, meliputi : ruang kuliah,Ruang Dosen, Ruang Pimpinan, Ruang Administrasi, Ruang Perpustakaan, Ruang Laboratorium, Ruang Micro teaching, Ruang Pertemuan, Ruang Kesenian dan Auditorium penunjang kegiatan studium general.
e. Program Pengembangan Sumber dana yang memadai bagi Insuri
1). Terwujudnya sumber dana yang memadai
2). Terwujudnya program kegiatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Insuri (APBI)
3). Terwujudnya sistem pengelolaan keuangan yang practicable dengan base data keuangan

4). Terwujudnya sistem pelaporan keuangan yang terpercaya
5). Terlaksananya sistem pengawasan keuangan yang selektif
f. Program Kemahasiswaan dan Alumni
1). Terwujudnya organisasi mahasiswa yang proaktif, kreatif, konstruktif berwawasan sosio-akademik
2). Terwujudnya program kegiatan mahasiswa dalam wadah Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKK) dalam unit UKK Kerohanian, UKK Seni Budaya, UKK Sosial
3). Terwujudnya komunikasi inter dan antar mahasiswa secara intern dan ekstern kampus
4). Terwujudnya pembinaan, diklat kepemimpinan dan keorganisasian serta manajemen administrasi organisasi kemahasiswaan yang kreatif
5). Terjalinnya komunikasi mahasiswa dengan seluruh komponen Civitas Akademika Insuri
6). Terwujudnya kegiatan kompetitif mahasiswa secara ilmiah, akademis, seni budaya dan ajang kreativitas mahasiswa secara inter dan ekstern
7). Terciptanya kegiatan mahasiswa dalam unjuk karya siswa madrasah aliyah dan sma untuk menjaring potensi dan promosi
Program Kerjasama
1). Terjalinnya kerjasama dengan pemerintah
2). Terjalinnya kerjasama antar PT
3). Terjalinnya kerjasama lembaga lain
4). Terjalinnya kerjasama dengan luar negeri
Program Unsur Penunjang Kegiatan
1). Terwujudnya ruang perpustakaan yang interpretatif
2). Terwujudnya laboratorium micro teaching dan bahasa
3). Terwujudnya masjid dan pesantren mahasiswa sebagai islamic centre non akademik

2. MISI INSURI

Berdasarkan indikator-indikator yang telah dirumuskan tersebut, maka Insuri Ponorogo menjabarkan ke dalam program sebagai berikut :
a. Program Peningkatan Kualitas Pendidikan, meliputi:
1).Terwujudnya pengembangan fakultas, jurusan dan program studi baru
a). Mengembangkan fakultas umum yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja
b). Mengembangkan jurusan dari PAI,PBA, KPI, EI serta PGMI dan PGRA jenjang S.1 berdasarkan PP 19 th.2005
c). Mengembangkan Pusat Pelayanan kuliah komputer menjadi program akademi tehnologi Informatika dan Komunikasi program D2/D3 di bawah struktur Insuri

2).Terwujudnya pengembangan kurikulum dan silabus inti dan institusional yang relevan,
a). Merumuskan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) / Institusional
b). Membuat pemetaan Kurikulum Satuan Pendidikan Insuri
c). Menjabarkan Silabus Semua Mata Kuliah
d). Mewujudkan Desain Satuan Acara Perkuliahan (SAP)
e). Mewujudkan rumusan Sistem Penilaian (Sisnil) yang akurat
f). Menyusun Kurikulum, Silabus dan SAP Institusional

3).Terlaksananya proses perkuliahan yang aktif, kreatif, efektif, inovatif dan menyenangkan
a). Melaksanakan perkuliahan sesuai dengan SM/SAP
b). Menyelenggarakan perkuliahan kontekstual
c). Menyelenggarakan perkuliahan secara kreatif, produktif dan inovatif
d). Mengelola perkuliahan dalam kelas yang menyenangkan
e). Menciptakan budaya disiplin dalam kemandirian dan mandiri dalam kedisiplinan
f). Melaksanakn perkuliahan dengan memanfaatkan media unsur warga kampus dan lingkungan alam sekitar

4).Unggul dalam prestasi akademik dan non akademik
a). Melakukan sosialisasi tentang kesadaran standar kelulusan kepada warga civitas akademika
b). Insuri melaksanakan pembelajaran dengan beragam strategi dan metode (learning style) dalam usaha peningkatan nilai akademik
c). Mengakses pedoman dan petunjuk sebagai kelengkapan tercapainya keberhasil prestasi akademik
d). Mengintensifkan program reward bagi mahasiswa yang berprestasi
e). Mengintensifkan Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKK) Seni Budaya, Olah raga, Kerohanian, Bakti Sosial
f). Mendisiplinkan pelaksanaan program tata tertib dalam proses perkuliahan, ujian maupun kegiatan non akademik.

5). Terwujudnya standart penilaian pendidikan yang akuratif
a). Melaksanakan pengembangan perangkat /model-model penilaian pembelajaran
b). Melaksanakan implementasi model evaluasi
b. Program Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat
1). Terlaksananya kegiatan penelitian
a). Menyelenggarakan penelitian perseorangan bagi mahasiswa dan Dosen
b). Menyelenggarakan penelitian kolektif/kelompok bagi Mahasiswa dan Dosen
c). Mengikuti Diklat, penataran dan atau workshop tentang pengembangan penelitian bagi mahasiswa dan Dosen
d). Mengikuti berbagai kompetisi dalam berbagai penelitian bagi mahasiswa dan dosen
e). Mengadakan berbagai even tentang kegiatan Karya Tulis Ilmiah
f). Membentuk wadah Lembaga penelitian dan Pengabdian Masyarakat
g). Mengadakan unjuk karya dan diskusi ilmiah untuk mengembangkan wawasan bagi Dosen dan Mahasiswa
h). Mendatangkan nara sumber, tim expert dan atau pakar penelitian tingkat nasional dan internasional
i). Penerbitan jurnal ilmiah, pers institut atau media pendidikan

2). Terlaksananya kegiatan pengabdian pada masyarakat
a). Menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat dalam bidang penyuluhan agama, sosial dan ketrampilan padat karya
b). Melakukan pelatihan ketrampilan dalam mengembangkan kemampuan agama, ketrampilan dan sosial
c). Menyelenggarakan berbagai acara dalam kompetisi ketrampilan kognitif di jenjang pendidikan lanjutan atas/SMA,MA,SMK
c. Program Peningkatan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
1). Terwujudnya profesionalisme tenaga edukatif
a). Dosen melaksanakan pembelajaran secara aktif, kreatif, efektif, inovatif, menyenangkan
b). Dosen memiliki kompetensi dalam membuat desain pembelajaran dan mengimplementasikannya
c). Dosen sanggup meningkatkan kelayakan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi
d). Dosen sanggup mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat,) WORKSHOP, Seminar, PTK, Simposium di tingkat Lokal, regional maupun nasional

2). Terwujudnya kinerja administrasi akademik dan perkantoran
Tenaga kependidikan (akademik,TU, Staf dan karyawan serta penjaga malam) mampu bekerja secara intensif

3). Terwujudnya tenaga penunjang akademik dan staf pelaksana yang trampil
a). Memujudkan perencanaan kerja, deskripsi kerja dan koordinasi kerja dalam pengawasan secara struktural yang sinergis
b). Tenaga BAUK menyelenggarakan keadministrasian, surat menyurat dan pengelolaan kearsipan yang selektif
c). Tenaga BAUK mengatur pengelolaan Pembiayaan Investasi dan Operasional lembaga, Sarana dan Prasarana koordinasi dengan PR II
d). Tenaga BAAK menyelenggarakan administrasi kemahasiswaan, dokumen mahasiswa, penilaian, ijazah dan penyelenggaraan administrasi program akademik kemahasiswaan
e). Tenaga BAAK menyelenggarakan administrasi PPL, KKN dan Penelitian Lapangan, Wisuda dan Mahasiswa Baru dalam koordinasi PR I dan PR III
4). Unggul dalam manajemen lembaga yang prospektif
a). Rektor mampu mengelola tenaga pendidikan dan kependidikan secara profesional
b). Meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidik maupun tenaga kependidikan secara selektif

d. Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Insuri
Meningkatnya Sarana dan Prasarana Insuri yang representatif, meliputi : ruang kuliah,Ruang Dosen, Ruang Pimpinan, Ruang Administrasi, Ruang Perpustakaan, Ruang Laboratorium, Ruang Misro teaching, Ruang Pertemuan, Ruang Kesenian dan Auditorium penunjang kegiatan studium general.
1). Melengkapi kebutuhan ruang perkuliahan, ruang pimpinan, ruang, dosen, ruang administrasi, ruang perpustakaan nsesuai dengan kebutuhan perkuliahan
2). Menyediakan laboratorium bahasa dan micro teaching yang nyaman
3). Menyediakan ruang presentasi/pertemuan, atau auditorium yang representatif
4). Menciptakan taman kampus yang asri
5). Mengadakan kerjasama dalam penyediaan logistik bagi dosen, seperti koperasi dan atau toko, fotocopy dan percetaan kampus
6). Mencanangkan ruang /lokal institut pers/university pers
7). Melengkapi media, bahan dan alat pembelajaran
8). Melengkapi sarana pendidikan
9). Penyediaan dan perbaikan prasarana pendidikan
10). Melengkapi sarana kegiatan ekstrakurikuler
11). Melengkapi sarana untuk penerapan tata tertib dosen dan mahasiswa
e. Program Pengembangan Sumber dana yang memadai bagi Insuri
1). Terwujudnya sumber dana yang memadai
a). Pengadaan sumber dana dari SPP Mahasiswa
b). Pengadaan dana dari sumbangan insidental
c). Pengadaan sumbangan dana dari uang gedung
d). Mengajukan usulan dana dari APBD
e). Mengajukan usulan dari dana APBN
f). Mengajukan usulan dana dari Dirjen Ditpertais Diperti Depag RI
g). Mengajukan dana Grant dari Pemerintah Pusat
h). Pengadaan Donatur dari Alumni dan Investor
2). Terwujudnya program kegiatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Insuri (APBI)
a). Merumuskan APBI dan mensosialisasikan kepada seluruh Sivitas Akademika secara Transparat
b). Menyusun biaya Investasi dan Operasional lembaga dalam jangka setiap 1 tahun anggaran
3). Terwujudnya sistem pengelolaan keuangan yang practicable dengan base data keuangan
a). Melaksanakan sistem keuangan menggunakan multi media dengan aplikasi keuangan dan akuntansi
b). Melakukan pengarsipan dalam microsoft/arsif software
4). Berkembangnya sistem pelaporan keuangan yang terpercaya
5). Menyusun pelaporan secara terbuka dan praktis
6). Terlaksananya sistem pengawasan keuangan yang selektif
Melakukan kontrol dalam penyelenggaraan keuangan
f. Program Kemahasiswaan dan Alumni
1). Terwujudnya organisasi mahasiswa yang proaktif, kreatif, konstruktif berwawasan sosio-akademik
a). Membentuk organisasi mahasiswa (BEM,HMJ,KOSMA)melalui perencanaan, pengorganisasian, pemlihan potensi dan kompetensi, koordinasi, pengendalian dan administrasi organisasi serta pembiayaan yang sistematis
b). Melakukan pembinaan bidang organisasi dan pelatihan
2). Terwujudnya program kegiatan mahasiswa dalam wadah Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKK) dalam unit UKK Kerohanian, UKK Seni Budaya, UKK Sosial
Menyusun program organisasi kemahasiswaan dalam wadah Unit Kegiatan Kemahasiswaan bidang Rohani, Seni Budaya dan Sosial
Membentuk pelaksana dan penanggung jawab setiap UKK
3). Terwujudnya komunikasi inter dan antar mahasiswa secara intern dan ekstern kampus
a). Menjalin KERJASAMA dalam Organisasi kemahasiswaan dalam wadah UKK
b). Menciptakan even kegiatan kolaborasi dari beberapa perguruan tinggi di sekitarnya
c). Menciptakan forum diskusi ilmiah dan tukar pendapat dalam pengembangan keorganisasian
4). Terwujudnya pembinaan, diklat kepemimpinan dan keorganisasian serta manajemen administrasi organisasi kemahasiswaan yang kreatif
a). Menyelenggarakan diklat pim/penataran kepemimpinan, organisasi dan administrasi organisasi
b). Melaksanakan pembinaan dan pembekalan mental berorganisasi
5). Terjalinnya komunikasi mahasiswa dengan seluruh komponen Civitas Akademika Insuri
Menyelenggarakan dan mengikti studium general di tingkat institusi bagi mahasiswa dan dosen
6). Terwujudnya kegiatan kompetitif mahasiswa secara ilmiah, akademis, seni budaya dan ajang kreativitas mahasiswa secara inter dan ekstern
Menyelenggarakan kegiatan kompetitif/lomba-lomba antar pelajar tingkat SMA,MA,SMK di lingkungan kampus
7). Terciptanya kegiatan mahasiswa dalam unjuk karya siswa Madrasah Aliyah dan SMA untuk menjaring potensi dan promosi
Membentuk forum diskusi ilmiah dan unjuk karya pelajar dan mahasiwa

Program Kerjasama
1). Terjalinnya kerjasama dengan pemerintah
a). Menciptakan kerjasama Bidang akademis, sosial, kesehatan dan ketertiban
b). Membantu dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan di dinas Pendidikan/depag
2). Terjalinnya kerjasama antar PT
Mengembangkan perguruan tinggi, penyusunan usulan berbagai kegiatan ilmiah
3). Terjalinnya kerjasama lembaga lain
Bekerjasama dalam penyelenggaraan kegiatan akademik PPL, KKN, PKl dan lainnya
4). Terjalinnya kerjasama dengan luar negeri
Mengembangkan kerjasama dengan perguruab tinggi di luar negeri seperti Malaysia, Al Azar Kairo Mesir dalam pertukaran ilmu, Dosen dan Mahasiswa
Program Unsur Penunjang Kegiatan
1). Terwujudnya ruang perpustakaan yang interpretatif
a). melengkapi hard ware pelayanan perpustakaan
b). penertiban pengunjung
c). pendataan dan analisis pengunjung
d). melengkapi kebutuhan buku materi, referensi dan penunjang mata kuliah
e). melengkapi data base pengguna perpustakaan
2). Terwujudnya laboratorium micro teaching dan bahasa
a). pengadaan gedung/ruang microteaching
b). pengadaan kebutuhan sarana praktikum
c). pengadaan hardware micro teaching berbasis multi media
d). menunjuk pengelola ruang micro teaching
3). Terwujudnya masjid dan pesantren mahasiswa sebagai islamic centre non akademik
a). menyiapkan fasilitas masjid kampus untuk kegiatan UKK Kerohanian
b). mengadakan jadwal rutin shalat jamaah mahasiswa dan dosen
c). memperbaiki dan melengkapi fasilitas di masjid kampus











C. ANALISIS INPUT MAHASISWA,
ANALISIS KEBUTUHAN LULUSAN,
ANALISIS PENDAYAGUNAAN LULUSAN
1. Analisis Input Mahasiswa

Dasar berfikir penerimaan mahasiswa INSURI Ponorogo adalah :

a. Bahwa INSURI Ponorogo, secara geografis berlokasi sangat strategis mengingat kedudukan kampus berada di lingkungan pendidikan-pendidikan menengah atas (SMA), Madrasah Aliyah ,SMK atau yang sederajat
b. Bahwa Kabupaten Ponorogo berada di daerah yang memiliki budaya pendidikan pesantren dengan basis pendidikan agama. Sedangkan perguruan tinggi yang bersifat keguruan dengan konsentrasi pendidikan umum sangat kecil. Oleh karena itu prospek pendidikan umum memilikipeluang yang cukup besar.
c. Bahwa secara faktual di Kabupaten Ponorogo memiliki 10 perguruan tinggi negeri dan swasta, terdiri dari 5 perguruan tinggi agama ( 1 buah PTAIN, dan 4 buah PTAIS) atau 50 % berbasis pendidikan agama yaitu STAIN Sunan Ampel Ponorogo, Institut Studi Islam Darussalam (ISID) Gontor, IAIRM Pondok Walisongo Ngabar Siman Ponorogo, Universitas Muhammadiyah Ponorogo ( memiliki jurusan pendidikan umum pada fakultas teknik), dan Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo dan 2 buah PTS atau 20 % yaitu Universitas Merdeka ( UNMER ) dan STKIP PGRI Ponorogo serta 3 buah Akademi ( akademi Perawat/Analis Farmasi dan Makanan) atau 30 % yaitu Akademi Analis Farmasi Sunan Giri, Akademi Perawat Muhammadiyah dan Akademi Keperawatan Pemerintah Daerah)
d. Bahwa perlu adanya Perguruan Tinggi di Kabupaten Ponorogo yang menyelenggarakan pendidikan jenjang Sarjana (S1) jurusan PGMI Guru Kelas serta jurusan PAUD program studi Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak, sebagaimana diamanatkan oleh PP 19/ 2005 pasal 29 tentang kualifikasi akademis guru.
e. Bahwa Pendidikan keguruan yang diselenggarakan perguruan tinggi umum di Kabupaten Ponorogo terdiri dari Jurusan S1 Bahasa Indonesia, S1 Bahasa Inggris (di STKIP PGRI Ponorogo), Jurusan S1 Matematika, Teknik dan Bahasa Inggris ( di FKIP Unmuh Ponorogo), dengan program yang diformulasikan dalam kurikulum pendidikan di tingkat SMP dan SMA atau sederajat
f. Bahwa jumlah lulusan SMA dan sederajat di Kabupaten Ponorogo pada 5 tahun terakhir mencapai rata-rata 7.210 siswa. Hal ini menjadi peluang INSURI Ponorogo
g. Bahwa jumlah formasi guru di SD, SMP secara umum lebih dari 1397 orang,
h. Bahwa jumlah formasi guru di TK secara umum lebih dari 455 orang.
i. Bahwa jumlah Mahasiswa Program D II PGSD/MI di Kabupaten Ponorogo pada tahun 2006/2007 lebih dari 812 mahasiswa sebagai aset.
j. Bahwa jumlah Mahasiswa Program D II PGTK/RA di Kabupaten Ponorogo pada tahun 2006/2007 lebih dari 474 mahasiswa sebagai aset.
(Sumber : BPS Kab. Ponorogo,2006/2007)
2. Analisis kebutuhan / pendayagunaan lulusan
Berdasarkan data yang dapat dihimpun dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Ponorogo, kebutuhan atau pendayagunaan lulusan dapat dianalisis :
1. Bahwa jumlah guru Pendidikan Dasar sampai akhir tahun akademik 2006/2007 berjumlah 4.898 orang atau 84,112 % dari kebutuhan guru Pendidikan Dasar yang mestinya jika terpenuhi semua secara ideal rata-rata 9 orang guru bagi setiap Pendidikan Dasar negeri dan swasta dibutuhkan 5.864 orang.
2. Bahwa jumlah siswa SMP Negeri lebih dari 24.000 orang, sampai akhir tahun akademik 2005/2006, tenaga guru berjumlah 4.363 orang atau 72,73 % berarti kurang 77,27 dari jumlah siswa SMP negeri dan swasta yang berjumlah 33.000 orang (kekurangan sekitar 1.636 orang)
3. Bahwa jumlah guru TK sampai pada akhir tahun akademik 2006/2007 berjumlah 474 dengan jumlah murid 6.802 anak, artinya ratio murid terhadap guru sama dengan 1:14.
4. Bahwa kualifikasi pendidikan terakhir dari para guru SD/MI tersebut 7 % berijazah Pendidikan Pendidikan Guru, 69,7 % berijazah Diploma II (PD II PGSD) dan 23,3 % berijazah Sarjana (S1).
5. Bahwa jumlah guru TK sampai pada bulan Juni 2006 sebanyak 474 (mestinya 5.12 anak) hanya 13,7 % yang telah menempuh pendidikan S.1 (di luar bidang ke TK-an).
6. Bahwa jumlah Pendidikan Dasar negeri dan swasta adalah 632 pendidikan. Artinya masih dibutuhkan tenaga guru di Pendidikan Dasar negeri dan swasta sejumlah 16,746 % atau 986 orang.
7. Bahwa jumlah TK tercatat 474 orang guru dengan 86,3 % belum memiliki kualifikasi pendidikan Sarjana (S1).
8. Bahwa rekrutmen tenaga profesi (guru) khususnya SMP, SD dan TK tentu dilakukan secara bertahap.
9. Bahwa alokasi anggaran yang diarahkan bagi kesejahteraan tenaga profesional masih sangat terbatas baik di tingkat kabupaten/kodya maupun di tingkat nasional.
10. Bahwa rekrutmen tenaga baru membutuhkan analisis yang signifikan dengan kondisi daerah dan hal ini menjadi kewenangan penuh daerah sebagai implikasi UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka berbagai konsekuensinya pemerintah daerah bertanggung jawab atas kewenangan yang telah diberikan, termasuk aspek pendidikan seperti apa yang telah ditulis pada bab VIII pasal 35 dikatakan bahwa “Setiap Satuan Pendidikan Jalur Pendidikan Pendidikan Baik yang diselenggarakan oleh Pemerintah maupun Masyarakat harus menyediakan sumber belajar. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa Sumber Daya Pendidikan adalah Pendukung dan Penunjang Pelaksanaan Pendidikan yang terwujud sebagai tenaga, dana, sarana dan prasarana.
11. Bahwa sebagai bentuk implementasi PP 19/2005 pasal 29 ayat (1 dan 2) tenaga profesi/guru SD dan TK harus berkualifikasi pendidikan akademis setingkat D IV atau Sarjana (S1)
Beberapa alasan mendasar tersebut menunjukkan bahwa khususnya di Kabupaten Ponorogo, dan kota/kabupaten sekitar pada umumnya, masih sangat membutuhkan tenaga profesi berkualifikasi khusus sesuai dengan ketentuan peraturan tersebut. Dengan demikian lulusan Mahasiswa Insuri Ponorogo nantinya dapat memenuhi kebutuhan atau dapat diberdayakan sebagai tenaga edukasi sesuai dengan peraturan tersebut.
D. PENYELENGGARAAN PERGURUAN TINGGI
1. Fakultas, Jurusan dan Program
INSURI Ponorogo terdiri dari :
1. Fakultas Tarbiyah :
Jurusan :
1.Pendidikan Agama Islam
2. Pendidikan Bahasa Arab
3. Pendidikan Guru MI
4. Pendidikan Guru RA
5. Program akta IV
6. Fakultas Syariah
1. Jurusan Muamalat
7. Fakultas Dakwah
2. Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam
8. Program Pasca Sarjana
3. Program Studi Manajemen Pendidikan Islam

INSURI Ponorogo diselenggarakan di bawah Yayasan Perguruan Tinggi “Batoro Katong” Ponorogo.
Insuri Ponorogo dalam penyelenggaraannya dipimpin oleh Seorang Rektor dan dibantu oleh tiga orang Pembantu Rektor, dengan Purek I bidangi Akademik, Purek II bidang Sarana dan Prasarana dan Purek III membidangi Kemahasiswaan. Struktur dibawahnya meliputi Dekan dan dibantu oleh Ketua Jurusaan sesuai dengan jurusan yang dimiliki yang masing-masing .
Disamping rektor terdapat dua Kepala Biro yaitu Kepala Biro Administrasi dan Keuangan ( BAUK) dan Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (BAAK).
Kepala Biro Administrasi dan Keuangan membidangi administrasi umum seluruh surat menyurat yang dikeluarkan oleh Rektor dan mengelola keuangan dalam bentuk investasi dan operasional. Dalam pelaksanaan kerja Kepala BAUK melakukan kerjasama dan koordinasi dengan Pembantu Rektor II bidang Sarana dan Prasarana yang berkaitan dengan pengelolaan investasi dan keuangan. Sedangkan Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan membidangi seluruh administrasi yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran serta kegiatan kemahasiswaan. Dalam pelaksanaannya melakukan kerjasama dan koordinasi dengan Pembantu Rektor I dalam mengambil kebijaksanaan operasional bidang pendidikan dan pengajaran seperti data base mahasiswa, nilai, penyelenggaraan ujian tulis,ujian lisan, skripsi, karya ilmiah dan penelitian serta bekerjasama dengan Pembantu Rektor III bidang Kemahasiswaan dalam penyelenggaraan Praktik Kerja/ Pengalaman Lapangan ( PKL/ PPL), Observasi dan eksperimen penelitian, Bakti sosial, dan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
Dalam bidang Pendidikan dan Pengajaran Rektor dan Pembantu Rektor I secara implementatif di selenggarakan oleh tiap Fakultas masing-masing dan dipimpin oleh Dekan Fakultas. Insuri memiliki tiga Fakultas dan dua Program yaitu Fakultas Tarbiyah, Fakultas Syariah, Fakultas Dakwah dan Program Pasca sarjana.
Fakultas Tarbiyah terdiri dari 4 jurusan yaitu Jurusan : Pendidikan Agama Islam (PAI), Pendidikan Bahasa Arab (PBA), Pendidikan Guru Madrasah Ibtida’iyah (PGMI) dan Jurusan Pendidikan Guru Raudlatul Athfal ( PGRA). Fakultas Syariah memiliki Jurusan Muamalat dan Fakultas Dakwah memiliki jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) kesemuanya jenjang S.1. Dua Program yang dimiliki Insuri adalah Program Akta IV dan Program Pasca sarjana.
Dari keempat jurusan di fakultas Tarbiyah dengan berdasarkan pada efektifitas dan efisiensi, utamanya dalam pengelolaan pembiayaan dikomulasikan ke dalam tiga jurusan yang dipimpin oleh Ketua Jurusan. Dekan Fakultas Tarbiyah membawahi Ketua Jurusan PAI dan PBA di tambah dengan program AKTA IV, Ketua Jurusan PGMI dan Ketua Jurusan PGRA. Dekan Fakultas Syariah membawahi Ketua Jurusan Muamalat dan Dekan Fakultas Dakwah membawahi Ketua Jurusan KPI. Program Pascasarjana Insuri dengan prodi Manajemen Pendidikan Islam. Khusus untuk pengelolaan Program Pasca Sarjana dalam penyelenggaraannya diatur dalam struktur tersendiri, yang terdiri dari Direktur, Asisten Direktur dan Ketua Program Studi ( Ka prodi).
Sesuai dengan Lampiran IX Keputusan Dirjen Kelembagaan Agama Islam no. Dj.II/114/2005 tersirat bahwa jurusan PAI diharapkan output nya memiliki kompetensi utama :memiliki pengetahuan tentang agama Islam secara komprehensif, teori dan metodologi dalam pendidikan. Teori dan metodologi dalam pendidikan islam dan terampil mengajar pendidikan Agama Islam serta memiliki komitmen kebergamaan dan keilmuan di bidang Pendidikan Agama Islam. Untuk jurusan PBA memiliki kompetensi lulusan : memiliki pengetahuan bahasa arab, pengetahuan tentang teori dan metodologi dalam pendidikan, terampil mengajar bahasa Arab dan memiliki komitmen keregamaan dan keilmuan di bidang pendidikan bahasa Arab.

E. SISTEM PEMBELAJARAN
Sistem pembelajaran Insuri Ponorogo adalah :
Menerapkan Sistim Kredit Semester (sks) dengan penyebaran berimbang pada tiap semester
Pembelajaran dalam sks terbagi ke dalam 8 semester / 4 tahun akademik.
Pembelajaran dengan Tatap Muka, Teori dan praktikum
Sistem pembelajaran dengan memperhatikan Mata Kuliah bersyarat. Misalnya Psikologi Umum Mahasiswa wajib lulus, sebagai syarat untuk menempuh mata kuliah Psikologi Pendidikan dan Psikologi Perkembangan .
Waktu perkuliahan teori / tatap muka mulai pukul 13.45 – 17.30
Menerapkan Ujian TengahSemester (UTS), Ujian Akhir Semester (UAS) dan Ujian Kualifikasi Mutu (UKM)
Menerapkan perkuliahan lapangan/di luar kelas : praktikum, PPL, KKN, Penelitian dan sebagainya.

F. PERAN DAN TANTANGAN

1. Peran
Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional telah mengamanatkan kepada seluruh Departemen dan atau Dinas Pendidikan beserta semua lembaga pendidikan di bawahnya untuk menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan ketentuan yang tersirat di dalamnya. Insuri menyadari sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional tersebut, akan selalu proaktif ambil peranan dalam melaksanakan undang-undang yaitu UU no. 20 th. 2003 tersebut. Implikasi penyelenggaraan pendidikan tinggi dijabarkan dalam PP no. 60 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi.

Insuri yang berkedudukan di ibu kota Kabupaten Ponorogo melalui kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, berperan sebagai agen pembaharuan pembangunan dalam ikut mengembangkan Kota Ponorogo dan sekitarnya.
Insuri akan selalu meningkatkan peranannya dalam ikut mewujudkan kehidupan manusia dan masyarakat yang benar-benar selaras dalam hubungannya dengan Allah SWT, dengan sesama manusia serta dengan alam sekitarnya, memiliki kemantapan dan keseimbangan dalam kehidupan lahiriyah dan batiniyah, sehingga sanggup dan mampu melanjutkan perjuangan bangsa.
Peranan Insuri akan selalu ditingkatkan dalam ikut menunjang pembangunan nasional pada umumnya, dan khususnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai tempat mencetak kader umat dan kader bangsa sekaligus dengan tetap memegang teguh dan tetap memelihara ciri khusus, sebagai salah satu amal usaha dalam bidang pendidikan tinggi milik keluarga besar Nahdatul Ulama.

2. Tantangan.
Insuri menyadarai bahwa, dalam menjalankan peranan dan mutunya menghadapi tantangan-tantangan. Tantangan-tantangan yang ada ditengah-tengah masyarakat akan direspon oleh Insuri dan dengan berbagai program yang telah dicanangkannya.

Beberapa tantangan yang harus dijawab antara lain :
1. Makin meningkatkanya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan pada umumnya dan pendidikan tinggi pada khususnya sebagai salah satu upaya peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas.

2. Makin bertambahnya jumlah lulusan pendidikan menengah baik SMA/SMK maupun MA dari tahun ketahun yang tidak berkesempatan melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi di kota besar.

3. Semakin tingginya tuntutan kompetensi ketenagaan dunia kerja dengan menciptakan Magister Pendidikan melalui program Pasca Sarjana.

3. Tuntutan Pembangunan pada umumnya dan untuk menyongsong era pasar bebas akan banyak membutuhkan tenaga-tenaga sarjana dan Pasca sarjana serta tenaga-tenaga profesional dalam bidang-bidang pembinaan mental spiritual untuk mengantisipasikan perubahan dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat industrial dan modern yang materialistis dan tenaga-tenaga profesional dalam bidang-bidang yang bersangkutan.

4. Semakin meningkatnya pola hidup sebagian masyarakat yang madani, yang menitik beratkan pada kehidupan duniawi yang materialis, dan bertentangan dengan jiwa Agama dan Pancasila, memerlukan usaha penanggulangan secara preventif, antara lain melalui kegiatan dakwah Islamiyah, amar makruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat.
5. Adanya persaingan sesama Perguruan Tinggi di Ponorogo.

Dengan meningkatkan peranan Ilmu Agama Islam yang dikembangkan melalui Tarbiyah, Dakwah dan Syari'ah, sebagai lembaga pendidikan ditengah-tengah masyarakat diharapkan ikut membantu terbinanya kehidupan perseorangan dan masyarakat yang seimbang antara rohani dan jasmaninya antara iman dan akalnya, antara perasaan dan pemikiran antara dunia dan akhiratnya.


G. TUJUAN DAN SASARAN UMUM

1. Tujuan
Tujuan Pendidikan Nasional adalah meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu yang beriman dan bertagwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggungjawab, mandiri, cerdas, dan trampil, sehat jasmani dan rohani, memperdalam cinta tanah air, mempertebal semangat kebangsaan, dan rasa kesetiakawan sosial, percaya diri sendiri, sikap dan perilaku yang kreatif dan inovatif, sehingga mampu mewujudkan manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa.

Atas dasar tujuan pendidikan nasional tersebut diatas, maka tujuan pendidikan Institut Agama Islam dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo adalah :
1. Tujuan Umum :
Membantu pemerintah Republik Indonesia dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia sesuai dengan Undang Undang Dasar 1945 dan Garis Garis Besar Haluan Negara yang berazaskan Pancasila, serta menghasilkan tenaga-tenaga pembangunan dalam bidang-bidang keahlian tertentu, yang sesuai dengan fakultas-fakultas yang dibina.
2. Tujuan Institusional :
1. Mewujudkan Sarjana Muslim yang berkualitas, beraklhaq mulia, cakap, percaya pada diri sendiri, dan berguna bagi masyarakat dan negara, beramal menuju terwujudnya masyarakat yang diridhoi Allah SWT.
2. Mewujudkan ahli madya dibidang analis kesehatan dan makanan untuk meningkatkan kesejahteraan umat manusia
a. Mewujudkan kampus sebagai lembaga pendidikan dan lembaga kader umat guna mengantarkan mahasiswa menjadi Sarjana Muslim dan Ahli Madya kesehatan dengan kwalifikasi intelek ulama dan ulama intelek.
b. Mewujudkan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan untuk pembangunan masyarakat dan negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945.

3. Tujuan Pengembangan :
a. Mengembangkan kelembagaan yang ada, misalnya, pengembangan kelembagaan, organisasi, personalia, dan peraturan-peraturan pelaksanaannya.
b. Mengembangan kegiatan akademik, termasuk pelaksanaan sistim kredit semester dan administrasi akademiknya.
c. Mengembangkan sarana fisik, termasuk pengadaan lahan dan ruangan kegiatan akademik dan administrasi.
d. Meningkatkan pengembangan anggaran pendapatan dengan meningkatkan dana non mahasiswa serta usaha lain yang dianggap ayah.


PENJABARAN TUJUAN SITUASIONAL/ SASARAN
Rencana Induk Pengembangan yang diprogramkan selama lima tahun akademik (mulai tahun 2006/2007 sampai dengan 2010/2011), di Insuri Ponorogo memiliki tujuan/ sasaran agar mampu melaksanakan dan mengembangkan :
1. Program Peningkatan Kualitas Pendidikan, meliputi:

1.1.Terwujudnya pengembangan fakultas, jurusan dan program studi baru
1.1.1. Mengembangkan fakultas umum yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja
1.1.2. Mengembangkan jurusan dari PAI,PBA, KPI, EI ditambah PGMI dan PGRA jenjang S.1 berdasarkan PP 19 th.2005
1.1.3. Mengembangkan Pusat Pelayanan kuliah komputer menjadi program Akademi Manajemen Informatika Komputer ( AMIK ) program D.3 di bawah struktur Insuri

1.2.Terwujudnya pengembangan kurikulum dan silabus inti dan institusional yang relevan,
1.2.1. Merumuskan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) / Institusional
1.2.2. Membuat pemetaan Kurikulum Satuan Pendidikan Insuri
1.2.3. Menjabarkan Silabus Semua Mata Kuliah
1.2.4. Mewujudkan Desain Satuan Acara Perkuliahan (SAP)
1.2. 4.Mewujudkan rumusan Sistem Penilaian (Sisnil) yang akurat
1.2.5. Menyusun Kurikulum, Silabus dan SAP Institusional

1.3.Terlaksananya proses perkuliahan yang aktif, kreatif, efektif, inovatif dan menyenangkan
1.3.1 Melaksanakan perkuliahan sesuai dengan SM/SAP
1.3..2. Menyelenggarakan perkuliahan kontekstual
1.3.3. Menyelenggarakan perkuliahan secara kreatif, produktif dan inovatif
1.3.4. Mengelola perkuliahan dalam kelas yang menyenangkan
1.3.5. Menciptakan budaya disiplin dalam kemandirian dan mandiri dalam kedisiplinan
1.3.5. Melaksanakn perkuliahan dengan memanfaatkan media unsur warga kampus dan lingkungan alam sekitar

1.4.Unggul dalam prestasi akademik dan non akademik
1.4.1 Melakukan sosialisasi tentang kesadaran standar kelulusan kepada warga civitas akademika
1.4.2 Insuri melaksanakan pembelajaran dengan beragam strategi dan metode (learning style) dalam usaha peningkatan nilai akademik
1.4.3 Mengakses pedoman dan petunjuk sebagai kelengkapan tercapainya keberhasil prestasi akademik
1.4.4 Mengintensifkan program reward bagi mahasiswa yang berprestasi
1.4.5 Mengintensifkan Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKK) Seni Budaya, Olah raga, Kerohanian, Bakti Sosial
1.4.6 Mendisiplinkan pelaksanaan program tata tertib dalam proses perkuliahan, ujian maupun kegiatan non akademik.

1.5.Terwujudnya standart penilaian pendidikan yang akuratif
1.5.1. Melaksanakan pengembangan perangkat /model-model penilaian pembelajaran
1.5.2. Melaksanakan implementasi model evaluasi

2. Program Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

2.1.Terlaksananya kegiatan penelitian
2.1.1. Menyelenggarakan penelitian perseorangan bagi mahasiswa dan Dosen
2.1.2. Menyelenggarakan penelitian kolektif/kelompok bagi Mahasiswa dan Dosen
2.1.3. Mengikuti Diklat, penataran dan atau workshop tentang pengembangan penelitian bagi mahasiswa dan Dosen
2.1.4. Mengikuti berbagai kompetisi dalam berbagai penelitian bagi mahasiswa dan dosen
2.1.5. Mengadakan berbagai even tentang kegiatan Karya Tulis Ilmiah
2.1.6. Membentuk wadah Lembaga penelitian dan Pengabdian Masyarakat
2.1.7. Mengadakan unjuk karya dan diskusi ilmiah untuk mengembangkan wawasan bagi Dosen dan Mahasiswa
2.1.8. Mendatangkan nara sumber, tim expert dan atau pakar penelitian tingkat nasional dan internasional
2.2.Terlaksananya kegiatan pengabdian pada masyarakat
2.2.1. Menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat dalam bidang penyuluhan agama, sosial dan ketrampilan padat karya
2.2.2. Melakukan pelatihan ketrampilan dalam mengembangkan kemampuan agama, ketrampilan dan sosial
2.2.3. Menyelenggarakan berbagai acara dalam kompetisi ketrampilan kognitif di jenjang pendidikan lanjutan atas/SMA,MA,SMK
3. Program Peningkatan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
3.1.Terwujudnya profesionalisme tenaga edukatif
3.1.1 Dosen melaksanakan pembelajaran secara aktif, kreatif, efektif, inovatif, menyenangkan
3.1.2 Dosen memiliki kompetensi dalam membuat desain pembelajaran dan mengimplementasikannya
3.1.3 Dosen sanggup meningkatkan kelayakan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi
3.1.4 Dosen sanggup mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat,) WORKSHOP, Seminar, PTK, Simposium di tingkat Lokal, regional maupun nasional

3.2.Terwujudnya kinerja administrasi akademik dan perkantoran
Tenaga kependidikan (akademik,TU, Staf dan karyawan serta penjaga malam) mampu bekerja secara intensif

3.3.Terwujudnya tenaga penunjang akademik dan staf pelaksana yang trampil
3.3.1 Memujudkan perencanaan kerja, deskripsi kerja dan koordinasi kerja dalam pengawasan secara struktural yang sinergis
3.3.2 Tenaga BAUK menyelenggarakan keadministrasian, surat menyurat dan pengelolaan kearsipan yang selektif
3.3.3 Tenaga BAUK mengatur pengelolaan Pembiayaan Investasi dan Operasional lembaga, Sarana dan Prasarana koordinasi dengan PR II
3.3.4 Tenaga BAAK menyelenggarakan administrasi kemahasiswaan, dokumen mahasiswa, penilaian, ijazah dan penyelenggaraan administrasi program akademik kemahasiswaan
3.3.5 Tenaga BAAK menyelenggarakan administrasi PPL, KKN dan Penelitian Lapangan, Wisuda dan Mahasiswa Baru dalam koordinasi PR i dan PR III

3.4.Unggul dalam manajemen lembaga yang prospektif
3.4.1 Rektor mampu mengelola tenaga pendidikan dan kependidikan secara profesional
3.4.2 Meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidik maupun tenaga kependidikan secara selektif
4. Program Pengembangan Sarana dan Prasarana Insuri
4.1.Meningkatnya Sarana dan Prasarana Insuri yang representatif, meliputi : ruang kuliah,Ruang Dosen, Ruang Pimpinan, Ruang Administrasi, Ruang Perpustakaan, Ruang Laboratorium, Ruang Misro teaching, Ruang Pertemuan, Ruang Kesenian dan Auditorium penunjang kegiatan studium general.
4.1.1 Melengkapi kebutuhan ruang perkuliahan, ruang pimpinan, ruang, dosen, ruang administrasi, ruang perpustakaan nsesuai dengan kebutuhan perkuliahan
4.1.2 Menyediakan laboratorium bahasa dan micro teaching yang nyaman
4.1.3 Menyediakan ruang presentasi/pertemuan, atau auditorium yang representatif
4.1.4 Menciptakan taman kampus yang asri
4.1.5 Mengadakan kerjasama dalam penyediaan logistik bagi dosen, seperti koperasi dan atau toko, fotocopy dan percetaan kampus
4.1.6 Mencanangkan institut pers/university pers
4.1.7 Melengkapi media, bahan dan alat pembelajaran
4.1.8 Melengkapi sarana pendidikan
4.1.9 Penyediaan dan perbaikan prasarana pendidikan
4.1.10 Melengkapi sarana kegiatan ekstrakurikuler
4.1.11 Melengkapi sarana untuk penerapan tata tertib dosen dan mahasiswa

5. Program Pengembangan Sumber dana yang memadai bagi Insuri
5.1.Terwujudnya sumber dana yang memadai
5.1.1 Pengadaan sumber dana dari SPP Mahasiswa
5.1.2 Pengadaan dana dari sumbangan insidental
5.1.3 Pengadaan sumbangan dana dari uang gedung
5.1.4 Mengajukan usulan dana dari APBD
5.1.5 Mengajukan usulan dari dana APBN
5.1.6 Mengajukan usulan dana dari Dirjen Ditpertais Diperti Depag RI
5.1.7 Mengajukan dana Grant dari Pemerintah Pusat
5.1.8 Pengadaan Donatur dari Alumni dan Investor
5.2.Terwujudnya program kegiatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Insuri (APBI)
5.2.1 Merumuskan APBI dan mensosialisasikan kepada seluruh Sivitas Akademika secara Transparat
5.2.2 Menyusun biaya Investasi dan Operasional lembaga dalam jangka setiap 1 tahun anggaran
5.3 Terwujudnya sistem pengelolaan keuangan yang practicable dengan base data keuangan
5.3.1 Melaksanakan sistem keuangan menggunakan multi media dengan aplikasi keuangan dan akuntansi
5.3.2 Melakukan pengarsipan dalam microsoft/arsif software
5.4 Berkembangnya sistem pelaporan keuangan yang terpercaya
Menyusun pelaporan secara terbuka dan praktis
5.5 Terlaksananya sistem pengawasan keuangan yang selektif
Melakukan kontrol dalam penyelenggaraan keuangan
6. Program Kemahasiswaan dan Alumni
6.1 Terwujudnya organisasi mahasiswa yang proaktif, kreatif, konstruktif berwawasan sosio-akademik
6.1.1 Membentuk organisasi mahasiswa (BEM,HMJ,KOSMA)melalui perencanaan, pengorganisasian, pemlihan potensi dan kompetensi, koordinasi, pengendalian dan administrasi organisasi serta pembiayaan yang sistematis
6.1.2 Melakukan pembinaan bidang organisasi dan pelatihan
6.2 Terwujudnya program kegiatan mahasiswa dalam wadah Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKK) dalam unit UKK Kerohanian, UKK Seni Budaya, UKK Sosial
Menyusun program organisasi kemahasiswaan dalam wadah Unit Kegiatan Kemahasiswaan bidang Rohani, Seni Budaya dan Sosial
Membentuk pelaksana dan penanggung jawab setiap UKK
6.3 Terwujudnya komunikasi inter dan antar mahasiswa secara intern dan ekstern kampus
6.3.1 Menjalin KERJASAMA dalam Organisasi kemahasiswaan dalam wadah UKK
6.3.2 Menciptakan even kegiatan kolaborasi dari beberapa perguruan tinggi di sekitarnya
6.3.3 Menciptakan forum diskusi ilmiah dan tukar pendapat dalam pengembangan keorganisasian
6.4 Terwujudnya pembinaan, diklat kepemimpinan dan keorganisasian serta manajemen administrasi organisasi kemahasiswaan yang kreatif
6.4.1 Menyelenggarakan diklat pim/penataran kepemimpinan, organisasi dan administrasi organisasi
6.4.2 Melaksanakan pembinaan dan pembekalan mental berorganisasi
6.5 Terjalinnya komunikasi mahasiswa dengan seluruh komponen Civitas Akademika Insuri
6.5.1 Menyelenggarakan dan mengikti studium general di tingkat institusi bagi mahasiswa dan dosen
6.6 Terwujudnya kegiatan kompetitif mahasiswa secara ilmiah, akademis, seni budaya dan ajang kreativitas mahasiswa secara inter dan ekstern
6.6.1 Menyelenggarakan kegiatan kompetitif/lomba-lomba antar pelajar tingkat SMA,MA,SMK di lingkungan kampus
6.7 Terciptanya kegiatan mahasiswa dalam unjuk karya siswa Madrasah Aliyah dan SMA untuk menjaring potensi dan promosi
6.7.1 Membentuk forum diskusi ilmiah dan unjuk karya pelajar dan mahasiwa

7. Program Kerjasama
7.1 Terjalinnya kerjasama dengan pemerintah
7.1.1.Menciptakan kerjasama Bidang akademis, sosial, kesehatan dan ketertiban
7.1.2.Membantu dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan di dinas Pendidikan/depag
7.2 Terjalinnya kerjasama antar PT
Mengembangkan perguruan tinggi, penyusunan usulan berbagai kegiatan ilmiah
7.3 Terjalinnya kerjasama lembaga lain
Bekerjasama dalam penyelenggaraan kegiatan akademik PPL, KKN, PKl dan lainnya
7.4 Terjalinnya kerjasama dengan luar negeri
Mengembangkan kerjasama dengan perguruab tinggi di luar negeri seperti Malaysia, Al Azar Kairo Mesir dalam pertukaran ilmu, Dosen dan Mahasiswa

VIII. Program Unsur Penunjang Kegiatan

1. Terwujudnya ruang perpustakaan yang interpretatif
1.1 melengkapi hard ware pelayanan perpustakaan
1.2 penertiban pengunjung
1.3 pendataan dan analisis pengunjung
1.4 melengkapi kebutuhan buku materi, referensi dan penunjang mata kuliah
1.5 melengkapi data base pengguna perpustakaan
2. Terwujudnya laboratorium micro teaching dan bahasa
2.1 pengadaan gedung/ruang microteaching
2.2 pengadaan kebutuhan sarana praktikum
2.3 pengadaan hardware micro teaching berbasis multi media
2.4 menunjuk pengelola ruang micro teaching
3. Terwujudnya masjid dan pesantren mahasiswa sebagai islamic centre non akademik
3.1 menyiapkan fasilitas masjid kampus untuk kegiatan UKK Kerohanian
3.2 mengadakan jadwal rutin shalat jamaah mahasiswa dan dosen
3.3 memperbaiki dan melengkapi fasilitas di masjid kampus


D. RENCANA STRATEGIS
Pada tahun 2006/2007 Insuri Ponorogo dalam rencana pengembangan kampus untuk memenuhi standar nasional pendidikan mengklasifikasikan rencana strategis (renstra) Institusi ke dalam tiga program :

Program I : Peningkatan Kualitas Akademik, dengan rencana yang meliputi :
Sasaran : 1. Mewujudkan perangkat kurikulum yang relevan dengan kegiatan raker Insuri dalam pengembangan :
o Kurikulum Inti dan Institusional serta Concep Mapping / Pemetaan Kurikulum pada seluruh jenjang dan semester
o Silabus Semua Mata Kuliah
o Desain Perkuliahan dan Satuan Acara Perkuliahan
o Sistem Penilaian (Sisnil) yang akurat
o Analisis Materi Kuliah ( AMK)
o Kurikulum, Silabus dan SAP MATA kULIAH Muatan Lokal sesuai dengan karakteristik Insuri Ponorogo

Sasaran :2. Melaksanakan proses perkuliahan yang aktif, kreatif, efektif, dan inovatif, meliputi :

o Pembelajaran yang relevansif dengan desain yang dirumuskan
o Pembelajaran yang kontekstual
o Pembelajaran secara aktif, kreatif, efektif, inovatif
o Pembelajaran di dalam dan di luar kelas yang menyenangkan
o Membudayakan sikap disiplin dalam kemandirian dan mandiri dalam kedisiplinan
o Pembelajaran dengan memanfaatkan media yang melibatkan unsur lingkungan kampus dan lingkungan alam sekitar
o Mengintensifkan monitoring dan evaluasi proses pembelajaran
o Mendayagunakan instalasi (laboratorium, perpustakaan dll), media, bahan, alat dan sumber-sumber pendukung pembelajaran
Sasaran :3. Unggul dalam prestasi akademik dan non akademik meliputi

a. prestasi bidang akademik

o Melaksanakan rapat kerja dan sosialisasi tentang kesadaran standar akademik dosen, mahasiswa , alumni dan tokoh yang dianggap peduli dan memberi kontribusi pada lembaga
o Melaksanakan pembelajaran secara konstruktif dengan beragam strategi dan metode (learning style) dalam usaha peningkatan kualitas akademik
o Mengakses pedoman dan petunjuk sebagai kelengkapan tercapainya keberhasilan prestasi ujian nasional dari internet, faximile, e-mail dll
o Menyelenggarakan Ujian Kualifikasi Mutu sebagai pengendali mutu akademik
o Mengintensifkan program administrasi akademik dan sistem pelaporan.
o Meningkatkan minat baca, minat infoteinment akademik melalui pemberdayaan perpustakaan, labkomp, dan auditorium sebagai sarana pendukung penyelenggaraan kegiatan akademik

b. prestasi non akademik
v Program Bakti Sosial
v Program Diklat Jurnalistik, Pers, Leadership
v Melaksanakan program unit kegiatan kemahasiswaan
Unit Kerohanian : Idul Qurban, Simaan Qur’an, Peringatan Hari Besar
Islam
Unit Kesenian :Festival Seni Islami antar siswa SMA,MA,SMK, Inaugurasi

Sasaran :4. Mewujudkan standart penilaian akademik yang yang akurat dengan:

Ø Membuat dan mengembangkan perumusan perangkat/model-model penilaian pembelajaran
Ø Mengimplementasikan model-model evaluasi
Ø Melaksanakan efektifitas program Analisis Ujian/UTS-UAS-UKM
Ø Merumuskan kriteria Yudisium dan kelulusan
Ø Mensosialisasikan kriteria yudisium dan kelulusan kepada mahasiswa

Program II : Peningkatan Manajemen dan Sumber Daya Manusia (MSDM) dengan rencana yang meliputi :

Sasaran :1. Mewujudkan profesionalisme tenaga edukatif dan non edukatif antara lain:

µ Melaksanakan Manajemen Berbasis Kinerja Tenaga edukatif
µ Mengembangkan manajemen administrasi akademik dan administrasi keuangan
µ Meningkatkan manajemen sarana dan prasarana perkuliahan
µ Pada tahun akademik 2009/2010 Dosen telah memiliki pendidikan S-2 (tingkat Pascasarjana) minimal 90 % dan Doktoral (S.3) minimal 3 %
µ Pada tahun akademik 2009/2010 telah memiliki Dosen minimal 50 % memiliki kepangkatan akademik
µ Pada tahun akademik 2007/2008, Insuri telah mengimplementasikan system pembelajaran konstekstual / Contecstual Teaching Learning (CTL)
µ Dosen melaksanakan pembelajaran secara aktif, kreatif, efektif, inovatif, menyenangkan
µ Dosen memiliki kompetensi dalam membuat desain pembelajaran dan mengimplementasikannya
µ Dosen sanggup meningkatkan kelayakan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi
µ Dosen sanggup mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat), Penelitian/ PTK, Action Research, WORKSHOP, Seminar, Simposium di tingkat Insuri, regional maupun nasional
Ø Tenaga non akademik (TU, Staf dan karyawan serta penjaga malam) mampu bekerja secara intensif.
Ø Tenaga administrasi menguasai multimedia, tehnologi informatika dan komunikasi (aplikasi komputer) secara aktif
µ Pimpinan lembaga dan stke holder di Insuri mampu mengelola tenaga akademik dan non akademik secara profesional
µ Meningkatkan kualitas serta kuantitas tenaga akademik dan tenaga non akademik secara prosedural dan selektif
µ Insuri mencapai standar profesionalitas Dosen sesuai dengan ketentuan Undang-undang Dosen dan PP 19/2005 dan PP No. 60 tahun 1989

Program III : Pengembangan Sarana Prasarana dan sumber dana Pendidikan, dengan rencana yang meliputi :

Sasaran :1. Memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pembelajaran yang representatif, yaitu :

melengkapi dan mengembangkan media, bahan dan alat pembelajaran
melengkapi sarana penunjang akademik
menyediakan dan melengkapi prasarana kegiatan UKK /ekstra kurikuler olah raga, kesenian, pramuka dan PSM
mengembangkan kelengkapan buku-buku referensi perpustakaan
melengkapi sarana untuk penerapan tata aturan program akademik
Sasaran :2. Unggul dalam teknologi informasi dan komunikasi
Tahun 2007/2008 mampu mengembangkan mahasiswa dalam program Internet, Faximile, e-mile yang terampil mengoperasikan computer program Aplikasi Pengolahan Data dan kata
Tahun 2009/2010 laboratotium komputer mengembangkan kepemilikan program internet yang diaplikasikan dalam rental tehnologi dan informatika kepada mahasiswa melalui program baru D.3 AMIK

4. Program Pengembangan sumber dana yang memadai bagi pendidikan dengan sasaran :

Sasaran :1. Mewujudkan tersedianya sumber dana yang memadai
µ Membentuk jaringan kerja (networking) dengan donatur
µ Melakukan kerjasama yang erat dengan komite,orang tua dan masyarakat melalui iuran wajib, sukarela, insidental dan amal jariyah.
µ Melaksanakan penggalangan dana dari berbagai proyek –proyek / grant di bidang pendidikan di tingkat kabupaten, propinsi maupun dirjen dikmenum dan dirjen dikdas

E. STRATEGI PELAKSANAAN
Program I : Peningkatan Kualitas Pendidikan dengan rencana :

Sasaran :1. Mewujudkan perangkat kurikulum yang relevan dengan strategi pelaksanaan :

o Tahun 2006-2007 Menyusun Kurikulum Inti dan Institusional serta Concep Mapping / Pemetaan Kurikulum pada seluruh jenjang dan semester
o Tahun 2007/2008 menyusun Silabus Semua Mata Kuliah
o Tahun 2007/2008 Semua Dosen Pembina Mata Kuliah menyusun Desain Perkuliahan dan Satuan Acara Perkuliahan
o Tahun 2006/2007 Menyusun Sistem Penilaian (Sisnil) yang akurat
o Analisis Materi Kuliah ( AMK)
o Tahun 2006/2007 menyusun Kurikulum, Silabus dan SAP MATA KULIAH Muatan Lokal sesuai dengan karakteristik Insuri Ponorogo
o Tahun 2006/2007 mengajukan program S.1 PGMI dan PGRA
o Tahun 2007/2008 mengajukan usulan pendirian program Akademi Manajemen Informatika dan Komputer ( AMIK)
Sasaran :2.Melaksanakan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, inovatif, meliputi :

o Pembelajaran yang relevansif dengan desain yang dirumuskan
o Pembelajaran yang kontekstual
o Pembelajaran secara aktif, kreatif, efektif, inovatif
o Pembelajaran di dalam dan di luar kelas yang menyenangkan
o Membudayakan sikap disiplin dalam kemandirian dan mandiri dalam kedisiplinan
o Pembelajaran dengan memanfaatkan media yang melibatkan unsur lingkungan kampus dan lingkungan alam sekitar
o Mengintensifkan monitoring dan evaluasi proses pembelajaran
o Mendayagunakan instalasi (laboratorium, perpustakaan dll), media, bahan, alat dan sumber-sumber pendukung pembelajaran

Sasaran :3. Unggul dalam prestasi akademik dan non akademik meliputi
a. prestasi bidang akademik

o Melaksanakan rapat kerja dan sosialisasi tentang kesadaran standar akademik dosen, mahasiswa , alumni dan tokoh yang dianggap peduli dan memberi kontribusi pada lembaga
o Melaksanakan pembelajaran secara konstruktif dengan beragam strategi dan metode (learning style) dalam usaha peningkatan kualitas akademik
o Mengakses pedoman dan petunjuk sebagai kelengkapan tercapainya keberhasilan prestasi ujian nasional dari internet, faximile, e-mail dll
o Menyelenggarakan Ujian Kualifikasi Mutu sebagai pengendali mutu akademik
o Mengintensifkan program administrasi akademik dan sistem pelaporan.
o Meningkatkan minat baca, minat infoteinment akademik melalui pemberdayaan perpustakaan, labkomp, dan auditorium sebagai sarana pendukung penyelenggaraan kegiatan akademik
b. prestasi non akademik
v Program Bakti Sosial
v Program Diklat Jurnalistik, Pers, Leadership
v Melaksanakan program unit kegiatan kemahasiswaan
Unit Kerohanian : Idul Qurban, Simaan Qur’an, Peringatan Hari Besar
Islam
Unit Kesenian :Festival Seni Islami antar siswa SMA,MA,SMK, Inaugurasi
Sasaran :4. Mewujudkan standart penilaian pendidikan yang akurat dengan :

Ø Membuat dan mengembangkan perumusan perangkat/model-model penilaian pembelajaran
Ø Mengimplementasikan model-model evaluasi
Ø Melaksanakan efektifitas program Analisis Ujian/UTS-UAS-UKM
Ø Merumuskan kriteria Yudisium dan kelulusan
Ø Mensosialisasikan kriteria yudisium dan kelulusan kepada mahasiswa

Program II : Peningkatan Manajemen dan Sumber Daya Manusia (MSDM) meliputi rencana :

Sasaran :1. Mewujudkan profesionalisme tenaga pendidik dan kependidikan antara lain:

µ Melaksanakan Manajemen Berbasis Kinerja Tenaga edukatif
µ Mengembangkan manajemen administrasi akademik dan administrasi keuangan
µ Meningkatkan manajemen sarana dan prasarana perkuliahan
µ Pada tahun akademik 2009/2010 Dosen telah memiliki pendidikan S-2 (tingkat Pascasarjana) minimal 90 % dan Doktoral (S.3) minimal 3 %
µ Pada tahun akademik 2009/2010 telah memiliki Dosen minimal 50 % memiliki kepangkatan akademik
µ Pada tahun akademik 2007/2008, Insuri telah mengimplementasikan system pembelajaran konstekstual / Contecstual Teaching Learning (CTL)
µ Dosen melaksanakan pembelajaran secara aktif, kreatif, efektif, inovatif, menyenangkan
µ Dosen memiliki kompetensi dalam membuat desain pembelajaran dan mengimplementasikannya
µ Dosen sanggup meningkatkan kelayakan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi
µ Dosen sanggup mengikuti pendidikan dan pelatihan (Diklat), Penelitian/ PTK, Action Research, WORKSHOP, Seminar, Simposium di tingkat Insuri, regional maupun nasional
Ø Tenaga non akademik (TU, Staf dan karyawan serta penjaga malam) mampu bekerja secara intensif.
Ø Tenaga administrasi menguasai multimedia, tehnologi informatika dan komunikasi (aplikasi komputer) secara aktif
µ Pimpinan lembaga dan stke holder di Insuri mampu mengelola tenaga akademik dan non akademik secara profesional
µ Meningkatkan kualitas serta kuantitas tenaga akademik dan tenaga non akademik secara prosedural dan selektif
µ Insuri mencapai standar profesionalitas Dosen sesuai dengan ketentuan Undang-undang Dosen dan PP 19/2005 dan PP No. 60 tahun 1989

Program III : Pengembangan Sarana dan Prasarana Pendidikan

Sasaran :1. Memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pembelajaran yang representatif, yaitu :

melengkapi dan mengembangkan media, bahan dan alat pembelajaran
melengkapi sarana penunjang akademik
menyediakan dan melengkapi prasarana kegiatan UKK /ekstra kurikuler olah raga, kesenian, pramuka dan PSM
mengembangkan kelengkapan buku-buku referensi perpustakaan
melengkapi sarana untuk penerapan tata aturan program akademik
Sasaran :2. Unggul dalam teknologi informasi dan komunikasi
Tahun 2007/2008 mampu mengembangkan mahasiswa dalam program Internet, Faximile, e-mile yang terampil mengoperasikan computer program Aplikasi Pengolahan Data dan kata melalui usulan D.3 AMIK
Tahun 2009/2010 laboratotium komputer mengembangkan kepemilikan program internet yang diaplikasikan dalam rental tehnologi dan informatika kepada mahasiswa melalui program baru D.3 AMIK

PROGRAM IV.Pengembangan sumber dana yang memadai dengan sasaran :
Sasaran : Mewujudkan tersedianya sumber dana yang memadai
µ Tahun 2007/2008 menaikkan Pengadaan sumber dana dari SPP Mahasiswa
µ Tahun akademik 2007/2008 pengadaan iuran dana dari sumbangan insidental mahasiswa
µ Tahun akademik 2007/2008 menaikkan pengadaan sumbangan dana untuk uang gedung
µ Tahun 2007/2008 sampai dengan 2011/2012 secara rutin mengajukan usulan dana dari APBD/ DAU/ Proyek DAU melalui pemegang dana personal DPRD Ponorogo
µ Tahun 2008/2009 mengajukan usulan dana dari APBD Tingkat I Jawa Timur
µ Tahun 2006/2007 mengajukan dana Beasiswa bagi Dosen dan Mahasiswa
µ Mengajukan usulan dana dari Dirjen Ditpertais Diperti Depag RI
µ Mengajukan dana Grant dari Pemerintah Pusat
µ Pengadaan Donatur dari Alumni dan Investor


2. Sasaran
Berdasarkan tujuan pengembangan Institut Agama Islam dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo tersebut diatas, maka sasaran pengembangan yang hendak dicapai dalam kurun waktu Rencana Induk Pengembangan tahun 2002 sampai dengan 2007 adalah sebagai berikut :

1. Sasaran yang ingin dicapai dalam pengembangan kelembagaan, yaitu :
a. Terlaksananya Statuta Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo dengan sungguh-sungguh dan konsekuen.
b. Penyeseuaian organisasi Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo dengan PP No. 60 tahun 1999.
c. Tersusunnya peraturan baru tentang kepegawaian dan administrasi keuangan.
2. Sasaran yang ingin dicapai pengembangan akademik, yaitu :
a. Mengembangkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan mengintensifkan pelaksanaan sistim kredit semester.
b. Meningkatkan kemampuan proses belajar mengajar para dosen, baik dengan latihan, penataran maupun studi lanjut ke jenjang S2 maupun S3.
c. Meningkatkan kemampuan meneliti para dosen dalam pengembangan kependidikan, sain, dan teknologi.
d. Meningkatkan pengabdian masyarakat melalui bimbingan, pelayanan dan bantuan, kepada masyarakat untuk mewujudkan kesehatan dan kesejahteraan sosial..

3. Sasaran yang ingin dicapai dalam pengembangan fisik, yaitu :
a. Jangka pendek, adalah mewujudkan pembangunan kampus yang ideal sesuai dengan tuntunan dunia pendidikan tinggi.
Two. Jangka panjang, adalah membangun kampus lengkap dengan segala fasilitas dan sarananya.


4. Sasaran yang ingin dicapai dalam pengembangan anggaran yaitu :
a. Jangka pendek, akan diarahkan pada pengembangan sumberdaya manusia.
b. Jangka panjang, akan diarahkan pada pengembangan akademik.
c. Meningkatkan penerimaan anggaran dari para donatur dan sumbangan-sumbangan syah lain yang tidak mengikat.

D. POTENSI DAN MASALAH.

Beberapa potensi serta limitasinya yang dapat dikembangkan dalam kurun waktu lima tahun kedepan adalah sebagi berikut :

Insuri dan Akafarma pada kenyataan yang sebenarnya memiliki potensi-potensi yang dapat dikembangkan, baik potensi yang dimiliki secara intern maupun yang dapat dimanfaatkan dari luar, termasuk didalamnya hubungan-hubungan dengan Pemerintah Kabupaten, Propinsi dan Pusat serta lembaga-lembaga lainnya yang bisa dijalin, pengenalan akan potensi serta limitasinya/keterbatasannya perlu dilakukan dengan sebaik-baiknya agar arah perencanaan pengembangan dapat dilakukan secara realistis.

Inventarisasi potensi ditujukan untuk dapat menentukan dengan baik apa yang dapat dicapai dengan potensi yang dimiliki sekarang serta langkah-langkah apa kiranya yang dapat ditempuh, dan bagaimana agar potensi itu dapat dimanfaatkan. Demikian juga pengenalan akan limitasi/keterbatasan potensi serta kendala-kendalanya diperlukan untuk dapat menentukan langkah-langkah apa yang perlu diambil, dan bagaimana agar limitasi tersebut dapat secara bertahap dikurangi dan dihilangkan.

Beberapa masalah yang dihadapi oleh Institut Agama Islam dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo adalah sebagi berikut :
1. Masalah Umum :
Masalah yang dihadapi oleh Institut Agama Islam dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo mencakup berbagai kenyataan mengenai keadaan Institut sekarang ini dalam hubungannya dengan kondisi ideal yang dinginkan, masalah umum ini meliputi hal-hal sebagai berikut :
a. Produktifitas, belum berimbangnya antara lulusan (out put) dengan input mahasiswa tiap tahun.
b. Daya tampung, yaitu kecilnya daya tampung Institut Agama Islam dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo dalam usahanya untuk menampung lulusan SMU/SMK/MA. Peningkatan daya tampung memiliki arti yang sangat penting dalam memberikan jaminan terbinanya tingkat hidup yang lebih serasi sebagai suatu lemabaga pendidikan tinggi, hal ini bersangkut paut dengan kenyataan yang menunjukkan bahwa sebagian besar pemasukan dana berasal dari mahasiswa.
c. Kemampuan pengembangan yaitu kemampuan untuk berkembang menuju fase-fase pengembangan yang lebihluas , dalam hal ini bersangkupaut dengan pengembangan program dan jurusan pada Institut Agama Islam dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo yang sangat diperlukan untuk menunjukkan adanya kemauan menjadi lebih besar dan lebih baik.
d. Pembinaan kemahasiswaan yang ditujukan untuk pemenuhan tiga kebutuhan pokok mahasiswa, yaitu kesejahteraan, minat dan pengembangan penalaran individual mahasiswa.
e. Penelitian dan pengabdian masyarakat, yaitu kemampuan yang dapat meningkatkan pematangan pribadi dan lembaga pendidikan tingi dalam rangka menunjang pembangunan nasional.




2. Masalah Khusus
Disamping masalah umum Institut Agama Islam dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo juga menghadapi berbagai masalah khusus yang berkisar dibidang kelembagaan , akademik, fisik dan anggaran serta sumber dana
a. Masalah kelembagaan , yaitu antara lain hubungan antara penDosens yayasan dengan Rektor dan Rektor dengan para pembantu rektor serta para dekan, jurusan dan program studi dan sebagainya.
b. Masalah Akademik, yaitu pada umumnya menyangkut kurangnya pemahaman tenaga akademik para dosen terhadap pelaksanaan proses perkuliahan, masalah imbalan jasa, pelaksanaan ujian, sistem penilaian dan kenaikan status serta Akreditasi.
c. Masalah fisik, yaitu masih kurangnya beberpa kebutuhan prasarana dan sarana, seperti : Ruang kuliah, Perkantoran, Laboratoriun, Perpustakaan, Sarana Kegiatan Mahasiswa , dan lain-lain.
d. Masalah Anggaran dan sumber dana , yaitu masalah keterbatasan anggaran , khususnya pada Insuri yang belum memungkinkan dapat menyelenggarakan dan mengembangankan pendidikan tinggi dengan lebih baik, karena keterbatasan sumber dana, daya tarik, aktifitas kampus dll. Adapun di Akafarma sudah lebih baik dibandingkan dengan di Insuri.

E. KEBIJAKSANAAN DAN STRATEGI

Berdasarkan tujuan dan sasaran yang telah digariskan pada bagian terdahulu, dan melihat potensi dan masalah yang timbul, serta menyadari akan peran dan tantangan yang dihadapi, maka Insuri dan Akafarma mengambil kebijaksanaan sebagi berikut :
1. Berusaha untuk menggali dana non SPP.mahasiswa dengan cara meningkatkan kerja sama dan proyek penelitian dengan instansi lain serta usaha-usaha yang sesuai dengan tujuan lembaga.
2. Berusaha menekan Anggaran Belanja agar seimbang dengan Pendapatan yang diterima.
3. Mengusahakan dana dari Pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten untuk melaksanakan Pengembangan.

Strategi yang akan diambil oleh Insuri dan Akafarma dalam pengembangannya akan mengikuti fase-fase pengembangan yang telah digariskan oleh pemerintah yaitu memberikan prioritas pengembangan sesuai dengan fase-fase yang tercermin dalam program Repelita;
Repelita I (1987 - 1992) : Pembinaan sikap dan kesadaran pentingnya Perguruan tinggi.
Repelita II (1992 - 1997) : Pengembangan sarana fisik dan penataan akademik.
Repelita III (1997 - 2002) : Pengembangan sarana fisik dan penambahan jurusan.
Repelita IV (2002 - 2007) : Pengembangan sarana fisik dan penambahan program studi.
Repelita V (2007 - 2012) : Pengembangan sarana fisik dan pemantapan Tri Dharma.

Yang dijabarkan sebagai berikut :
1. Pembinaan sikap dan kesadaran akan pentingnya PTS yang mempunyai landasan agama, ilmu pengetahuan dan terknologi untuk terus dikembangkan sebagai :
a. Pusat Penelitian, Pengembangan dan Pengkajian Islam, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi secara terpadu.
b. Pusat Informasi yang bermanfaat bagi kepentingan masyarakat. Sebagai pusat informasi berarti mempunyai kemampuan memberikan informasi keluar yang sangat bermanfaat. Untuk ini harus ditunjang oleh sarana-sarana yang memadai, misalnya : Laboratorium, sarana Komunikasi (Telephon, Faximile, Internet.dll.)
2. Pembangunan fisik yang telah dicapai akan ditingkatkan sehingga terpenuhi standart sebuah Kampus Perguruan Tinggi yang Ideal.
- Jangka pendek, mencukupi kebutuhan minimal pada tahun 2003/2004.
- Jangka Menengah, menyelesaikan tahap demi tahap hingga dapat menampung seluruh fakultas, jurusan dan program studi.
3. Penataan Akademik agar dalam kurun waktu RIP ini sistim SKS dan segala alat penunjangnya sudah dapat dijalankan dengan sepenuhnya, yaitu :
Memantapkan sistim SKS, meningkatkan mekanisme proses akademik.
Meningkatkan Status Juruan/Program Studi.
Meneliti kemungkinan pembukaan program/jurusan/Fakultas baru.

4. Pemantapan Tri Dharma Perguruan Tinggi dilakukan agar memeproleh pengakuan dalam lingkungan masyarakat ilmiah, sebagai pusat kaderisasi, baik kedalam maupun keluar.







BAB II
DASAR PERENCANAAN

Dalam rencana pengembangannya, Perguruan tinggi Sunan Giri Ponorogo yang terdiri atas Institut Agama Islam dan Akafarma, akan mendasarkan perencanannya pada 4 kelompok, yang tiap kelompok terdiri dari beberapa sub kelompok.. Acuan demikian diambil sebagai pola agar mempermudah evaluasinya dikemudian hari, demikian pula pembagian dasar perencanaan atas ke 4 kelompok itu diharapkan sudah mencakup seluruh permasalahan yang dihadapi oleh kedua lembaga tersebut.

A. KELEMBAGAAN
1. Menejemen
Dalam perkembangannya IAI dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo sampai saat ini legalitas menejerialnya belum bisa memenuhi tuntutan sebuah lembaga formal yang keberadaannya telah diakui oleh pemerintah maupun masyarakat. Hal ini disebabkan adanya permasalahan seperti berikut :


a.Beberapa peraturan pelaksanaan belum disusun atau disyahkan atau disosialisasikan sehingga menyulitkan pelaksanaannya, antara lain :
1). Kenaikan pangkat pegawai edukatif dan non edukatif secara berjenjang.
2). Penggajian untuk tenaga edukatif dan non edukatif yang tetap maupun yang tidak tetap.
3). Peraturan untuk kemahasiswaan secara lengkap dan menyeluruh.
b.Beberapa peraturan belum dapat dijalankan dengan baik karena petunjuk pelaksanaannya (juklak) dan petunjuk teknis (juknis) belum tersusun.
c. Beberapa kegiatan ada yang belum dapat dijalankan dengan secara optimal sehingga dalam beberapa hal memberikan hambatan yang cukup berarti.
Organisasi Institut Agama Islam dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo belum dapat sepenuhnya disesuaikan dengan PP No. 60 tahun 1999.

2. Tenaga Edukatif (Dosen).
Jumlah tenaga edukatif (dosen) tetap belum memadai .Sesuai dengan peraturan yang berlaku seharusnya untuk sebuah Program Studi ( Jurusan ) memiliki dosen tetap, jika Terdaftar 6 orang, Diakui 8 orang dan Disamakan : 12 orang. Namun Dosen Tetap yang ada semua jurusan belum memenuhi aturan tersebut. Apalaagi jika di hubungkan dengan arti dosen tetap (yaitu dosen yang hanya bekerja di tempat ini dan digaji sesuai dengan peraturan ), maka tenaga edukatidf Insuri sangatlah tidak memadai. Demikian pula tentang kwalitasnya, dimana seorang dosen harus berkualifikasi pendidikan Sarjana Strata 2 ( S2 ). Namun tenaga edukatif yang sudah dapat dikembangkan dan merupakan potensi untuk peningkatan Status Akreditasi serta menumbuhkan kepercayaan kepada masyarakat pada umumnya, dan calon mahasiswa pada khususnya. Berikut ini disajikan Tabel tentang keadaan Dosen Insuri dan Akafarma pada tahun 2002 :
No
Fak./Akademi
Jurusan
Pendidikan terakhir



S-1
S-2
S-3
Jumlah
1
Tarbiyah
Pend. Agama Islam
13
14
2
29


Pend. Bahasa Arab
12
14
2
28


PGTK
12
4
1
17
2
Dakwah
Kom. &Peny.Islam
11
4
-
15
3
Syari’ah
Ekonomi Islam
11
5
1
17
4
Akademi
Analis Farma
21
5
-
26

Secara ringkas beberapa masalah yang dihadapi dalam hal tenaga edukatif adalah :
a. Masih kurangnya Tenaga Edukatif Tetap dan masih banyak Tenaga Edukatif Tidak Tetap yang berstatus bukan dosen ( non edukatif ).
b. Belum maksimalnya presensi kehadiran dosen.
Belum ada bantuan dosen dari pemerintah
Belum adanya kesesuaian dengan penghasilan dosen

3. Tenaga Non Edukatif
Tenaga non edukatif yang ada sampai saat ini kurang memadai.Yang ada hanyalah tenaga karyawan kantor dan perpustakaan. Jika tenaga yang ada ini disesuaikan dengan kebutuhan Institut atau Akademi saja masih kurang, belum tenaga untuk masing-masing fakultas dan jurusan.. Tenaga non edukatif untuk unit-unit pelaksana teknis seperti untuk lembaga penelitian, pengabdian masyarakat, laboratorium, sarana mobilitas dan lain lain masih kurang . Berikut ini data keadaan tenaga non edukatif pada tahun 2002 :
No
Fak./Akademi
Pendidikan terakhir


SD
SLTP
SLTA
DIII/SM
S-1
S-2
JML
1
Tarbiyah
1

4
-
1
1
7
2
Dakwah
1

4
-
1

6
3
Syari’ah
1

4
-
1

6
4
Akafarma
1

-
5
2

8
.4. Mahasiswa
Keadaan mahasiswa yang terdaftar dalam kurun waktu 5 tahun sampai sekarang adalah :
FAKULTAS
1997/1998
1998/1999
1999/2000
2000/2001
2001/2002
TARBIYAH
138
275
305
321
218
DAKWAH
49
54
62
36
21
SYARI'AH
-
-
-
9
10
AKAFARMA
66
92
104
129
167

Masalah-masalah yang dihadapi dalam hubungan dengan komponen mahasiswa selama ini adalah :
a. Perbandingan antara lulusan SMU/SMK/MA yang besar tapi peminat masih rendah.
b. Latar belakang sosial ekonomi orang tua mahasiswa dari golongan ekonomi lemah.
c. Kualitas pendidikan asal kurang memadai.

5. Lulusan
Jumlah lulusan yang telah dihasilkan selama periode lima tahun terakhir adalah sebagai berikut :
FAK/AK.
1996/1997
1997/1998
1998/1999
1999/2000
2000/2001
TARBIYAH

19
31
72
80
DAKWAH
-


3
5
SYARI'AH
-
-
-
-
-
AKAFARMA
-
-
29
37
26

Sebetulnya jumlah lulusan yang dihasilkam dapat merupakan potensi yang baik untuk pengembangan Institut Agama Islam dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo. Namun dijumpai beberapa masalah yang perlu dipecahkan yaitu :
a. Ikatan alumni yang mempunyai hubungan erat dengan almamater, belum mampu menunjukkan kerjasama yang baik.
b. Belum ada usaha yang nyata untuk menggali potensi para alumni

6. Kemahasiswaan.
Kegiatan kemahasiswaan yang telah dibentuk yaitu :
- Unit kesenian : dengan program pembinaan seni baca Al Qur'an.
- Unit kerohanian : Pembinaan keagamaan dengan aktifitas pokok Bulan Romadhon dan Dakwah lewat radio.
- Unit Olah Raga : Tenis Meja, Voli Ball, telah menyelenggarakan lomba antar mahasiswa di Ponorogo
Dari pengamatan dan daftar isian yang telah disebarkan dapatlah kita ketahui adanya masalah-masalah yang dihadapi dalam komponen kemahasiswaan, yaitu antara lain :
Kurangnya motivasi terhadap kegiatan mahasiswa.
Kurangnya koordinasi antara sesama mahasiswa dan atau dengan dosen pembina
Kurangnya alokasi dana untuk menunjang kegiatan mahasiswa.

B. AKADEMIK
1.Program Studi dan Kurikulum.
Fakultas ,jurusan yang telah dibuka adalah sebagai berikut :
Fakultas/Akademi
Jurusan
Program
Status
Tarbiyah
Pendidikan Agama Islam
Sarjana S1
Terakreditasi

Pendidikan bahasa Arab
Sarjana S1
Terdaftar

Pend. Dosen TK Islam
Diploma II
Terdaftar
Dakwah
Komunikasi & Peny.Islam
Sarjana S1
Terakreditasi
Syari’ah
Mu’amalat
Sarjana S1
Terdaftar
Akafarma
Analis farmasi & makanan
Diploma III
Terakreditasi

Sedangkan kurikulum yang dipakai masih mengacu pada kurikulum yang berlaku di IAIN bagi Insuri dan Kurikulum Pendidikan di Departemen Kesehatan bagi Akafarma. Hal ini disebabkan karena adanya ujian negara yang berlaku, sehingga walaupun ada kurikulum lokal masih tetap mengacu pada pedoman yang berlaku di masing-masing lembaga tersebut. Kurikulum yang dipakai saat ini sebagian telah dibakukan pula silabusnya

2. Proses Belajar Mengajar.
Pada komponen Proses Belajar Mengajar di Insuri dan Akafarma dapat menggunakan sistim Satuan Kredit Semester. Dalam prakteknya masing-masing lembaga menggunakan pedoman yang berlaku sesuai dengan lembaga yang membina yaitu IAIN ( Kopertais ) dan Departemen Kesehatan.

3. Penelitian
Kegiatan penelitian belum banyak dilakukan oleh Insuri maupun Akafarma. Hal ini disebabkan :
a. Kelembagaan penelitian yang telah dibentuk belum berfungsi sebagaimana mestinya.
b. Tenaga peneliti sangat kurang, khususnya dosen tetap yayasan.
c. Usaha Pengembangan Tenaga Peneliti dan Keahlian Penelitian masih kurang.
d. Kegiatan-kegiatan penelitian belum banyak dilakukan.
e. Belum adanya penganggaran Biaya Penelitian secara khusus dan berkelanjutan. Yang ada hanyalah biaya mandiri atau bantuan dari fihak lain.
f. Tindak lanjut yang telah dilakukan dalam memasyarakatkan hasil-hasil penelitian belum ada.
4. Pengabdian Pada Masyarakat.
Kegiatan Pengabdian Masyarakat telah dirintis oleh Insuri dan Akafarma dengan cara melakukan beberapa usaha, antara lain :
a. Membentukl Lembaga Pengabdian pada masyarakat.
b. Usaha yang telah dilakukan antara lain :
Mengisi pengajian dimasjid-masjid dan mushola, mengisi ceramah-ceramah agama di pondok kilat Bulan Romadhon di SLTP dan SMU/SMK.
c. Pemberian kursus-kursus pengetahuan aplikasi tertentu.
Bakti sosial di masyarakat.
d. Usaha penganggaran Biaya Pengabdian pada Masyarakat yang telah dilakukan adalah sebagai berikut ;
- Anggaran yang ada untuk pengabdian pada masyarakat masih amat rendah.
- Anggaran kegiatan pengabdian pada masyarakat lebih diutamakan dari luar.

C. PRASARANA DAN SARAANA
1. Lahan
Dalam pengembangannya, Institut Agama Islam dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo telah memiliki lahan untuk kegiatan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang luasnya sejumlah 10.377 M2. bertempat dilokasi kelurahan Kertosari, dengan setatus pemilikkan sertifikat hak milik yayasan. Lokasi tersebut berada di tengah kota sehingga mudah untuk berkomunikasi ke berbagai fihak.

2. Ruangan
Jumlah ruangan yang telah tersedia dan sampai saat ini dapat dipakai dengan baik adalah : 8 ruang kuliah, 1 ruang perpustakaan, 4 ruang kantor untuk Insuri, 2 ruang laboratorium analis untuk Akafarma, 2 ruang kantor Akafarma, satu ruang perpustakaan Akafarma dan sebuah Masjid.
Berbagai masalah yang dijumpai dalam penggunaan ruangan-ruangan yang tersedia antara lain :
- Efisiensi penggunaan ruangan yang masih kurang.
- Masih kurangnya ruangan-ruangan yang tersedia.
- Masih banyaknya ruangan yang digunakan secara ganda.
3. Perpustakaan
Buku-buku yang tersedia diperpustakaan masih jauh dari kebutuhan, walaupun usaha menambah jumlah buku dan jumlah judul terus dilakukan.
Masalah yang timbul dalam pengadaan buku adalah sebagai berikut ;
1. Masih kurangnya jenis dan jumlah judul buku dari standar.
2. Masih kurangnya minat baca para mahasiswa.
3. Dana yang tersedia untuk pengadaan buku masih terbatas.
4. Usaha untuk mendapatkan buku dari beberapa Yayasan Penerbit dan Pemerintah akan terus diupayakan.
4. Laboratorium
Dalam menunjang kehidupan Pendidikan dan Penelitian, sarana Laboratorium yang telah tersedia khususnya untuk kegiatan pratikum diluar kuliah untuk Insuri masih bekerja sama dengan pihak diluar kampus sedangkan untuk Akafarma sudah memadai.
Beberpa masalah dijumpai dalam penyediaan peraltan laboratorium adalah :
a. Adanya Laboratorium yang belum dimiliki sendiri hingga perlu meminjam diluar.
b. Jumlah peralatan yang diperlukan masih terbatas..
5. Sarana Mobilitas
Untuk melancarkan proses pendidikan, maka sarana mobilitas sangat diperlukan, karena keterbatasan dana masih punya satu kendaraan yang pemakaiaannyapun sangat terbatas.
Sementara untuk memenuhi kebutuhan sarana mobilitas menggunakan kendaraan umum/sewaan.

ANGGARAN DAN SUMBER DANA
Anggaran Belanja.
Anggaran belanja yang telah dikeluarkan oleh yayasan setiap bulan dan setiap tahunnya memang sudah cukup banyak, tetapi bila anggaran itu disesuaikan dengan kebutuhan yang seharusnya dipenuhi masih belum memadai.

Sumber dana.
Sampai saat ini sumber dana yang diperoleh hampir seluruhnya dari SPP mahasiswa dan bantuan wali mahasiswa. Sumber dana yang digunakan untuk operasional baru dari itu, belum diperoleh dari fihak lain















B A B III
PENGEMBANGAN

Pada bab ini diuraikan Rencana Pengemban Perguruan Tinggi Sunan Giri Ponorogo yang meliputi empat bidang pengembangan, yaitu :

BIDANG KELEMBAGAAN
Kuantitas lembaga
Potensi yang dimiliki oleh Perguruan Tinggi Sunan Giri Ponorogo sampai dengan tahun 2001/2002 adalah :
1). Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo, dengan Fakultas Tarbiyah, yang telah memiliki jurusan Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Bahasa Arab dan Diploma II PGTKI, Fakultas Dakwah yang telah memiliki jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, serta fakultas Syari’ah dengan jurusan Ekonomi Islam.
2). Akafarma Sunan Giri Ponorogo dengan program pendidikan Ahli Madya di bidang Analis Faramasi dan Makanan.
3). Unit penunjang, yaitu : perpustakaan, , laboratoriumanalis dan masjid..

b. Masalahnya adalah bahwa belum semua alumni SMU/SMK/MA belum berminat untuk masuk ke lembaga Perguruan tinggi Sunan Giri karena :
1). Jurusan yang ada belum atau tidak sesuai dengan pilihan mereka.
2). Belum semua masyarakat mengenal Insuri dan Akafarma dengan betul.
3). Kurangnya informasi yang sampai kepada masyarakat.
4). Tidak semua lulusan SMU/SMK dan MA tidak melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

Rencana pengembangan :
1). Dalam kurun waktu satu atau dua tahun kedepan, Fakultas Tarbiyah perlu menambah jurusan baru yang jangka pendidikannya pendek, yaitu Program Pendidikan Diploma II untuk jurusan PGSD/MI.
2). Dalam kurun waktu 3 atau 4 tahun kedepan , perlu di lakukan studi kelayakan membuka Fakultas umum, direncanakan dua fakultas, sehingga 5 atau 6 tahun kedepan lembaga Institut dan Akafarma menjadi satu lembaga, yaitu Universitas .
3). Rencana menambah sati jurusan untuk Ahli Madya yaitu pendidikan Ahli Madya Analis Farmasi perlu segera direalisir.

2. Menejemen.
a. Potensi yang ada pada Institut Agama Islam dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo dapat dibagi menjadi 3 bagian utama yaitu :
1). Tenaga Pengelola, yaitu pimpinan dan seluruh pembantunya telah memenuhi persyaratan, baik secara administratif atau kemampuannya.
2). Perangkat keras, seperti bangunan gedung dan fasilitas yang ada belum didayagunakan secara maksimal.
3). Perangkat Lunak, dimana tenaga pengajar dilihat dari sisi ilmunya cukup berpotensi dan dengan kwalitas mahasiswa yang cukup memadai serta sistim pendidikan yang cukup mantap.

Permasalahan yang dihadapi yaitu :
1). Pengelola belum dapat melaksanakan tugasnya secara optimal, karena sebagian besar
mereka bukan tenaga tetap yayasan, mereka punya pekerjaan lain yang juga sama-sama pentingnya
.2) Tenaga pengelola belum dapat menerima imbalan yang sesuai dengan jabatannya, karena itu belum bisa bekerja secara optimal
3). Perangkat keras belum dapat dikelola secara maksinmal dan belum sesuai dengan kebutuhan yang diharapkan.

c. Pengembangan .
1). Untuk dapat mengelola yang maksimal perlu diangkat tenaga tetap yayasan sesuai dengan syarat-syarat yang ditetapkan, dengan menekankan senioritas baik dibidang kepangkatan, gelar serta kematangan jiwa yang mampu menjalin hubungan kedalam maupun keluar. Pengelola perlu mendapatkan gaji yang memadai untuk keperluan hidup mereka bersama keluarganya.
2). Internal kontrol perlu diintensifkan.
3). Untuk masalah perangkat keras, beberapa jalan perlu ditempuh, bila perlu dikaji lebih lanjut,agar wajah kampus lebih menawan sehingga Institut Agama Islam dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo dapat menarik lebih banyak calon mahasiswa baru. Dengan bertambahnya mahasiswa maka berarti kemudahan untuk merencanakan perkembangan lebih lanjut.

4). Untuk masalah perangkat lunak yang utama ditujukan pada sistim manajemen pengelolaannya. Bila Mahasiswa dan Dosen serta karyawan makin banyak tanpa adanya sistim manajemen yang lebih mantap baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan maupun pengawasan aturan akan mendapatkan banyak hambatan untuk mengopersionalkannya.
5).Perlu disempurnakan dan dikembangkan berbagai peraturan tentang :
- Statuta dan Anggaran Rumah Tangga.
- Peraturan-peraturan Akademika, Administrasi, Kepegawaian, Kemahasiswaaan, dan keuangan serta peraturan-peraturan pelaksanaannya.
Peraturan-peraturan yang sudah ada perlu dibudidayakan dengan cara menyebarluaskannya, agar diketahui oleh setiap unsur yang terlibat.Peraturan-peraturan yang belum ada perlu segera disusun agar masalah tidak menjadi menggantung. Peraturan-peraturan yang belum ada dan perlu segera dibuat adalah:
- Jenjang kepangkatan pegawai edukatif tetap/tidak tetap maupun non edukatif tetap dan yang honorer. hal ini amat segera dibutuhkan untuk kebutuhan jaminan karier masa depan.
- Aturan otonomi terbatas juruasan/program study serta fakultas untuk kepentingan pengembangannnya masing-masing.

3. Tenaga Edukatif
a. Potensi tenaga edukatif yang ada ditinjau dari segi kualitas sudah memadai, karena sudah banyak yang berpendidikan S2. Dari 37 orang dosen Insuri , 15 orang berpendidikan S2 dan dua orang sedang menempuh pendidikan S3. Sedangkan dosen Akafarma dari sejumlah 26 orang, 5 orang berpendidikan S2.
Masalah yang menjadi bahan pemikiran adalah kurangnya tenaga edukatif. Hal ini terjadi disebabkan :
1).Kemampuan yayasan yang terbatas..
2). Kendala utama adalah keuangan yang hanya bergantung pada sumber dana dari mahasiswa ( SPP) yang lain belum dapat digali oleh pimpinan dan pihak yayasan.
Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah kehadiran dosen yang belum maksimal . Hal ini mungkin disebabkan karena:
3). Kehadiran dosen yang belum maksimal.

c. Pengembangan.
Mempertimbangkan masalah-masalah tersebut maka perlu pengembangan sebagai berikut:
1)..Meningkatkan usaha untuk menambah jumlah tenaga edukatif tetap, dengan cara :
- Memperbaiki honorarium dan peraturan tenaga edukatif.
- Memberikan beasiswa pada mahasiswa yang berprestasi yang ingin menjadi dosen tetap.
- Memberikan kesempatan studi lanjutan bagi dosen tetap.
2). Meningkatkan penghasilan dosen dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan peraturan yang ada.
3). Menaikan senioritas dan kwalifikasi tenaga dosen yang ada dengan seminar-seminar, studi lanjut, kenaikan berkala yang teratur dan lain lain.

4. Tenaga Non Edukatif
a. Potensi yang dimiliki untuk tenaga non edukatif memang masih belum memadai, karena di Insuri hanya ada 6 tenaga non edukatif dan di Akafarma ada 2 tenaga non edukatif ditambah 5 orang asisten.
b. Masalah yang dihadapi adalah bukan kurangnya tenaga itu sendiri melainkan dedikasi dan sumber dayanya yang perlu ditingkatkan, disamping penghasilannya yang masih rendah.
c. Pengembangan .
Untuk mengembangkan tenaga non edukatif ini perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut :
1)..Meningkatkan kemampuan dan skill di bidangnya masing-masing.
2). Meningkatkan gaji dan menambah penghasilan lain yang sah sehingga mereka merasa senang dan cukup bekerja di Insuri atau Akafarma.

5. Mahasiswa.
a. Potensi mahasiswa , dipandang dari jumlahnya untuk Insuri sangatlah minim, sebab yang memiliki mahasiswa dengan jumlah idial hanyalah Fakultas Tarbiyah sebanyak 172 orang, itupun untuk jurusan PAI, jurusan PBA hanya 7 orang, PGTK ada 39 orang, kemudian Dakwah hanya 21 orang serta Syari’ah 9 orang. Untuk Akafarma saat ini memiliki 167 orang.
b. Permasalahan yang timbul dari potensi tersebut adalah :
1).Jumlah mahasiswa Insuri terlalu kecil, sehingga dana yang diperoleh juga sedikit.
2).Sebagian besar mereka berasal dari keluarga ekonomi lemah.
3).Kualitas keilmuannya rata-rata kurang.

c. Pengembangan.
Untuk mengembangkan mahasiswa hal-hal yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
1). Meningkatkan pelayanan yang baik, baik dari segi administrasi maupun pembinaan sehingga menjadikan daya tarik lulusan pendidikan menengah untuk masuk ke Insuri.
2). Mengusahakan beasiswa dari berbagai fihak.
3). Meningkatkan proses belajar mengajar.
4). Meningkatkan kegiatan ilmiah dalam bentuk diskusi dan seminar.

Lulusan
a. Potensi
Sampai dengan tahun 2001 lulusan Insuri dan Akafarma adalah sebagai berikut :
No
Fakultas
Jurusan
Program
Jumlah
1
Tarbiyah
Pend.Agama Islam
Sarjana Muda
420 orang


Pend.Agama Islam
Sarjana S1
591 orang


Pend.Bahasa Arab
Sarjana S1
--


Pend.Dosen T.K. Islam
Diploma II
55 orang
2
Dakwah
Kom dan Peny.Islam
Sarjana S1
47 orang
3
Syari’ah
Ekonomi Islam
Sarjana S1
--
4
Akademi
Analis Farmasi & Makanan
Diploma III
91 orang
Dari lulusan tersebut sebagian besar telah memperoleh lapangan kerja, walalupun belum sesuai dengan harapan.
b. Yang menjadi permasalahan ialah :
1).Bagaimana upaya lembaga untuk membantu mereka menyalurkan pekerjaan sesuai dengan harapan.
2).Meningkatkan kualitas lulusan agar lebih mudah memasuki lapangan kerja.

c. Pengembangan
Untuk mengembangakan lulusan ini diperlukan pengembangan seperti berikut :
1). Menjalin kerjasama dengan berbagai fihak agar mereka yang membutuhkan tenaga kerja yang sesuai dengan yang dimiliki Insuri dan Akafarma dapat mengambil lulusan Insuri dan Akafarma.
2). Menambah ketrampilan-ketrampilan antara lain : kemampuan berdakwah, kemampuan berbahasa asing, ketrampilan komputer, ketrampilan berwirausaha.

Kemahasiswaan.
Pembinaan kemahasiswaan telah dilakukan dengan berbagai kegiatan melalui organisasi
kemahasiswaan dalam kampus baik ditingkat Institut maupun tingkat fakultas/jurusan dan koperasi mahasiswa.
b. Dari kegiatan kemahasiswaan ini timbul berbagai masalah, antara lain:
1). Kurangnya dana yang dapat membiayai seluruh kegiatan mahasiswa.
2). .Kurangnya koordinasi antar mahasiswa dan anatara mahasiswa dengan pembina sehingga kegiatan kemahasiswaan tidak dapat berjalan dengan teratur.
3). Belum ada unit-unit kegiatan mahasiswa diluar organisasi dan koperasi, misalnya : Pecinta alam, kepramukaan, lembaga kajian iptek, lembaga dakwah dan lain-lain.
4). .Belum ada asrama mahasiswa untuk menampung mahasiswa yang mengelola berbagai kegiatan kemahasiswaan.

c. Pengembangan
Untuk mengembangkan kegiatan kemahasiswaan tersebut maka diperlukan berbagai usaha, yaitu:
1). Penyediaan dana yang memadai untuk semua kegiatan mahasiswa, baik dana diperoleh dari lembaga maupun dari luar.
2). Peningkatan koordinasi kegiatan mahasiswa, terutama antara mahasiswa dengan Dosen pembina yang ditugasi Rektor.
3). Peningkatan unit-unit kegiatan mahasiswa, sesuai dengan potensi yang ada sehingga suasana kampus menjadi semarak dengan kegiatan-kegiatan tersebut. Bagi yang kuliah sore hari kegiatan dapat dilakukan pagi hari, demikian pula bagi yang kuliahnya pagi hari, kegiatan dapat dilakukan sore hari.
4). Segera diwujudkan rencana pembangunan asrama mahasiswa, sehingga kelak bisa membangun Pesantren Mahasiswa.

B. BIDANG AKADEMIK

Pengembangan akademik merupakan pokok dari rencana induk pengembangan karena pada hakekatnya pengembangan suatu PTS adalah pengembangan akademik. Dalam penyususunan RIP Perguruan Tinggi Sunan Giri Ponorogo, pemikiran mengenai pengembangan akademik akan menyita waktu dan tenaga yang lebih besar.

Selanjutnya pada bagian ini akan membahas 4 komponen pengembangan akademik, yaitu komponen Program Studi dan Kurikulumnya, Proses belajar mengajar, Penelitian dan Pengabdian masyarakat.

1. Program Studi dan Kurikulum
a. Program Studi di Insuri sangat terbatas, yaitu : 4 Program Studi untuk jenjang S1 ( Pendidikan Agama Islam, Pendidikan bahasa Arab, Komunikasi dan Penyiaran Islam dan Ekonomi Islam) dan 1 Program Studi untuk jenjang Diploma II ( Pendidikan Dosen Taman Kanak-kanak Islam). Sedangkan pada Akademi Analis baru satu program studi yaitu : Analis Farmasi dan Makanan.
Dari berbagai prgram tersebut sudah ada Kurikulumnya, baik nasional maupun lokal.
b. Permasalalahan yang tinbul adalah :
1).Jumlah program studi yang ada belum menmenuhi kebutuhan masyarakat secara menyeluruh, terutama program studi untuk ilmu-ilmu umum, baik jenjang Diploma maupun sarjana S1.
2).Kurikulum lokal masih kurang sempurna.
3).Silabus dari masing-masing kurikulum kurang lengkap, terutama silabus untuk Program Diploma II PGTK dan Silabus Agama untuk Akademi ( program studi umum ).

c. Pengembangan
Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, perlu pengembangan sebagai berikut :
1). Menambah jumlah Program Studi, baik mengembangkan Program Studi bagi fakultas yang ada maupun Program studi dengan membuka fakultas baru, sesuai dengan kemampuan yayasan.
2). Meninjau kembali kurikulum lokal dalam bentuk lokakarya atau sejenisnya, sehingga muatan lokal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan iptek dapat dimasukkan menjadi kurikulum lokal, dengan mengundang nara sumber yang ahli dalam bidangnya masing-masing.
3). Menyusun silabus untuk mata kuliah yang kurikulumnya belum ada silabusnya.

2. Proses Belajar Mengajar
a. Beberapa potensi proses belajar mengajar yang bisa dikembangkan antara lain: dosen yang telah memiliki kualifikasi pendidikan yang memadai, ruang perkuliahan, buku-buku perpustakan dan kurikulum .
b. Masalah-masalah yang timbul adalah:
1). Adanya sejumlah tenaga edukatif yang kurang disiplin dan kurang rajin membina mata kuliah.
2). Tidak adanya kewajiban membuat SAP pada semua dosen.
3). Ruang kuliah yang belum mencukupi.
4). Kurikulum dan silabusnya yang belum lengkap.
5). Kurang tersedianya buku-buku bacaan, baik bacaan wajib mahasiswa maupun penunjang.
6). Kurangnya minat belajar mahasiswa diperpustakaan.

c. Pengembangan.
Beberapa kemungkinan perbaikan dan pengembangan yang bisa diambil adalah :
1). Penertiban kegiatan proses belajar mengajar dalam bentuk kegiatan perkuliahan dan pembinaan tugas terstruktur dan mandiri. Kegiatan perkuliahan dalam bentuk tatap muka harus dapat dilaksanakan secara teratur dengan jadwal dan pengawasan dari Ketua Jurusan, Dekan dan selanjutnya oleh Pembantu Rektor Bidang Akademik . Kegiatan tugas terstruktur dapat dijalankan dengan pengawasan yang sama demikian pula kegiatan mandiri dapat disusulkan sesudah kegiatan terstruktur berjalan dengan baik.
2). Penertiban pembuatan SAP bagi setiap dosen, sehingga kegiatan kuliah maupun ujian dapat dengan mudah diawasi.
3). Pemantapan sarana penunjang keberhasilan pelaksanaan proses belajar mengajar, seperti: penambahan ruangan belajar, penyempurnaan kurikulum dan silabusnya, penambahan jumlah buku-buku perpustakaan, penyediaan OHP, penyediaan media pengajaran dan motivasi kepada mahasiswa agar rajin membaca buku diperpustakaan.

Penelitian
Sudah dimaklumi bahwa kemampuan penelitian di Insuri maupun Akafarma masih
lemah,walaupun sebenarnnya sudah banyak para dosen yang mempunyai kemampuan dalam bidang ini.
Adapun yang menjadi permasalahan adalah:
1). Kurang adanya waktu luang para dosen untuk meneliti, karena sebagian besar mereka memiliki kegiatan ditempat lain.
2). Lembaga penelitian yang sudah dibentuk tidak dapat berjalan dengan efektif.
3). Belum ada alokasi dana yang disediakan oleh lembaga untuk memacu dosen melakukan penelitian.
4). Kurang adanya jaringan dari fihak luar untu memperoleh proyek-proyek penelitian.

c. Pengembangan
Untuk itu yang penting diusahaklan dalam rencana pengembangan bidang penelitian adalah :
1). Menyediakan dana untu kegiatan bidang penelitian.
2). Mengefektifkan kerja dan program yang disusun oleh lembaga penelitian.
3). Memberi motovasi untuk memacu para dosen melakukan penelitian.
4). Bekerjasama dengan fihak lain yang memiliki proyek-proyek penelitian baik pemerintah
maupun swasta.
5). Mengikutkansertakan para dosen muda dalam diklat penelitian.
6).Menyelenggarakan seminar hasil penelitian

Pengabdian Masyarakat.
a. Potensi dalam bidang pengabdian masyarakat bagi para dosen Insuri khususnya adalah cukup
besar, karena ilmu-ilmu yang dimiliki hampir seluruhnya ilmu sosial yang mudah diterapkan dimasyarakat, terutama ilmu-ilmu agama dalam rangka pembinaan keagamaan. Pada era reformasi ini telah banyak pula dosen yang dilibatkan dalam kegiatan pembangunan daerah, misalnya menjadi anggota Pengawas Pemilu pada Tahun 1999, Pendamping Pemberdayaan Ekonomi Masyrakat, membina keberagamaan masyarakat baik secara langsung maupun melalui media massa/ elektronika dan sebagainya.
b. Namun demikian masih ada permasalahan yang muncul antara lain :
1). Kurang adanya pro aktif dari lembaga dalam bidang ini.
2). Organisasi lembaga pengabdian masyarakat yang dibentuk berjalan kurang efektif.
3). Kebanyakan pengabdian mahasiswa kepada masyarakat pada kegiatan KKN saja.

c. Pengembangan
Untuk mengembangkan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dapat dilakukan sebagai berikut :
1). Pengembangan sarana organisasi serta pembagian tugasnya (lembaga/biro/pusat dll).
2). Penyiapan tenaga-tenaga Pengabdian Masyrakat yang profesional.
3). Pengadaan sarana Pengabdian masyarakat.
4). Menambah anggaran dan kegiatanpPengabdian masyarakat.
5). Memperbanyak hari-hari kegiatan Pengabdian Masyarakat dalam satu tahun.
6). Mengaktifkan penyelenggaraan seminar Pengabdian Masyrakat.
7). Meningkatkan penyebaran hasil Pengabdian Masyarakat (publikasi lewat meia massa /elektronika, Jurnal Ilmiah, Buletin dsbnya).
8). Meningkatkan kerja sama dengan pemerintah dan lembaga-lembaga di masyarakat.

C. BIDANG SARANA DAN PRASARANA
Bidang pengembangan sarana dan prasarana merupakan penunjang kegiatan akademik yang diperlukan. Termasuk dalam bidang ini yang akan dibahas adalah komponen-komponen : lahan, ruangan, perpustakan, laboratorium dan sarana mobilitas.

1. Lahan
Lahan merupakan potensi yang baik, karena dengan memiliki lahan dapat dibangun kampus untuk melakukan kegiatan akademik, penelitian maupun pengabdian pada masyarakat. Sesuai dengan petunjuk pelaksanaan penyusunan rencana Induk Pengembangan Perguruan Tinggi Swasta (Ditjen Dikti, 1986) Rumus yang digunakan untuk lahan membangun kampus adalah :
Dalam kota : luas minimum = (2,5a + 12b + 10c + 9,5d)
0,4 x rata-rata banyak lantai
Luar kota : luas minimum = (2,5a + 12b + 10c + ,5d)
0,3 x rata-rata banyak lantai
Dimana : a = Jumlah mahasiswa kelompok ilmu sosial
b = Jumlah mahasiswa kelompok Agronomi
c = Jumlah mahasiswa kelompok ilmu teknik
d = Jumlah mahasiswa kelompok Kesehatan

Saat ini masalah lahan bagi Insuri dan Akafar tidak begitu masalah, karena tanah yang sudah dimiliki lebih dari 10.377 M2 dan terletak di tengah kota, namun jauh dari keramaian.
Berdasarkan kenyataan ini sementara belum dipikirkan menambah keluasan lahan.

2. Ruangan
Ruangan-ruangan yang dimiliki oleh Institut Agama Islam dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo sepenuhnya telah didayagunakan dengan secara optimal . Namun ruangan yang ada masih belum memenuhi kebutuhan. Ruang yang dibutuhkan antara lain : ruang kuliah : 23 ruang, ruang pimpinan : 7 ruang , ruang administrasi : 7 ruang, ruang laboratorium 4 ruang ( 2 lab. Analis, 1 lab. Bahasa dan 1 lab. Komputer ), perpustakaan : 3 ruang, masjid 1 buah, ruang lembaga penunjang 4 ruang. Sementara ini ruangan yang dimiliki adalah : ruang kuliah : 11 ruang, ruang pimpinan 3 ruang, ruang administrasi 3 ruang, masjid 1 buah, laboratorium 2 ruang.
Adapun permaslahan yang timbul adalah :
1). Terbatasnya dana untuk membangun ruangan.
2). Adanya ruang kuliah yang difungsikan untuk ruangan lain, seperti untuk : perpustakaan dan koperasi mahasiswa.

c. Pengembangan
Beberapa kemungkinan pengembangan yang bisa dilakukan antara lain berupa:
1). Penambahan ruangan perkuliahan baru yang memenuhi standart.
Standart untuk kuliah : 1,2 M2/mahasiswa, dengan 40 - 60 mahasiswa/kelas, artinya satu ruangan kuliah berukuran 72 m2
2). Penambahan ruangan administrasi mencakup ruangan pejabat, pegawai, dosen, tamu, dan pelayanan umum sesuai standart selayaknya.
3). Menggali dana dari berbagai fihak untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Tentang standart ruangan yang ideal adalah :
Ruang pejabat:
- Ruang rektor (24 m2)
- Ruang Pembantu Rektor (12-16 m2)
- Ruang Dekan (20 m2)
- Ruang Pembantu Dekan (16 m2)
- Ruang ketua Jurusan (16 m2)
- Ruang Sekretaris (12 m2)

Standart untuk pegawai adalah 4-6 m2 /pegawai ( 4,5 m2 ), khusus untuk Kepala Biro sebaiknya ada ruangan tersendiri.

Standart untuk dosen idealnya satu ruang untuk setiap dosen (2,4 m2 /dosen) dan dapat dipergunakan untuk penyiapan bahan kuliah dan konsultasi dengan mahasiswa, idialnya diperlukan :
- Ruangn Dosen mandiri (8-12-m2 )
- Ruangn Dosen Berdua (12-16 m2 )
- Ruangan Dosen Bersama (24 m2 )

Ruang lembaga Penelitian ada ruangan khusus minimal 2 ruangan (masing-masing 24 m2 ) sebuah untuk pimpinan Lembaga sebuah untuk sekretaris.
Bila dana memungkinkan , maka komposisi ruangan adalah sebagai berikut :
- Ruang Kepala (20 m2)
- Ruang Sekretariat (30 m2)
- Studio (48 m2)
- Lain-lain (40 m2)

Bila lembaga-lembaga ini mempunyai pusat-pusat penelitian maka setiap pusat akan diberi fasilitas ruangan seluas 48 m2.

Ruangan Lembaga Pengabdian Pada masyarakat dapat disamakan dengan ruang untuk lembaga penelitian, tetapi bila lembaga cukup aktif sehingga secara berkala menyelenggarakan latihan bagi masyarakat, maka perlu diberi fasilitas latihan khusus berupa ruang belajar yang dapat menampung 20-40 orang (luas 30-40 M2). ruang-ruang lain bila dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan.

Ruang untuk unsur kelengkapan termasuk didalamnya ruangan-ruangan yang disediakan untuk :
- Ruang Yayasan.
- Ruang Dewan Penyantun
- Ruang Senat (Sekretaris)
- Ruang Kegiatan Mahasiswa.
- Ruang Istirahat Dosen
- Dan ruang lainnya yang diperlukan

3.. Perpustakaan.
Perpustakaan yang ada sekarang dengan koleksi bukunya seperti yang sudah disediakan sangat jauh dari kebutuhan, karena buku yang tersedia kurang dari 2000 judul dan tidak lebih dari 3000 exemplar.
Masalah yang timbul tentang perpustakaan adalah :
1). Belum meiliki ruangan khusus ( gedung tersendiri yang representatif )
2). Pegawai perpustakaan belum mencukupi kebutuhan.
3). Koleksi buku-buku sangat kurang.
4). Dana yang tersedia untuk menambah buku belum ada.

c. Pengembangan.
Hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengembangkan perpustakaan adalah :
1). Menambah jumlah pegawai sehingga pelayanan kepada pembaca lebih baik.
2). Mengusahakan tambahan dana untuk menambah koleksi buku baik dari lembaga maupun
dana dari luar.
3). Menjalin kerjasama dengan penerbit buku, penyalur buku atau fihak-fihak lain yang dapat
membantu menambah koleksi buku di perpustakaan.
4). Membangun gedung khusus untuk pepustakaan, yang bentuk idealnya adalah meimiliki
ruang dan keluasannya sebagai berikut :
a) Gedung utama :
- Ruang buku , luasnya 1m2 /150 buku atau 1 m2 /mhs.
- Ruang Baca , kapasitasnya :10-25% jumlah mahasiswa atau 1,60 m2 /Mahasiswa .
b). Perlu disediakan ruangan khusus untuk :
- Ruang kepala Kepustakaan
- Ruang Administrasi Kepustakaan.
- Ruang Gudang dll.
c) Disamping itu perlu dipikirkan juga :
- Ruang pusat komputerisasi.
- Ruang pusat pengembangan belajar, dll.

Ditinjau dari segi kebutuhan buku, sebaiknya tersedia jumlah buku sebagi berikut :
- Buku Wajib = 5 judul/mahasiswa.
- Buku Anjuran= 7 judul/mahasiswa
- Majalah ilmiah= 2 judul.

Laboratorium
Laboratorium dan peralatan-peralatannya merupakan sarana yang harus dipenuhi. Sampai saat ini sudah ada dua Laboratorium untuk analis farmasi dan makanan bagi Akafarma. Institut belum memiliki laboratorium dan ini sangat mendesak, yaitu laboratorium bahasa dan komputer. Adapun laboratorium tempat praktek kependidikan sudah kerjasama dengan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Cabang Ponorogo, yaitu pendidikan atau madrasah yang dibawah pembinaan LP Ma’arif dijadikan pendidikan latihan kependidikan bagi mahasiswa Fakultas Tarbiyah, termasuk Raudhotul Athfal, Taman Kanak-kanak milik Muslimat NU.
Adapun masalah yang timbul dalam hal ini adalah :
1). Kurangnya dana untuk membangun laboratorium bagi Institut.
2). Belum tampak kesungguhan untuk mengembangkan komputer di lingkungan Institut.
3). Belum disusun tenaga calon pengelola masalah ini di Institut
c. Pengembangan
Hal-hal yang perlu dipikirkan untuk mengembangkan laboratorium ini adalah :
1). Mengusahakan pembangunan Laboratorium Bahasa dan Komputer, yang selanjutnya
bisa dipakai oleh seluruh mahasiswa, baik Akafarma maupun Insuri.
2). Penyediaan karyawan yang nantinya khusus mengembangkan unit ini, terutama
komputer.
3). Diusahakan bantuan dari luar dalam bentuk kerjasama yang saling menguntungkan untuk
mengembangkan laboratorium ini.

5. Sarana Mobilitas.
a. Pengadaan Sarana Mobilitas ternyata mempunyai potensi yang baik, khususnya kendaraaan yang digunakan untuk urusan-urursan dengan pihak diluar kampus sehingga tidak tergantung dari kendaraan pribadi atau sewaan. Pada tahun 2002 ini telah mampu membeli sebuah kendaraan yang nantinya digunakan khusus untuk pimpinan Insuri dalam rangka menjalin kerjasama dan menyelesaikan urusan-urusan lembaga dengan fihak luar.
b. Yang menjadi permasalahan ialah :
1). Belum ada kendaraan untuk mobilitas karyawan dan kegiatan mahasiswa.
2). Belum ada aturan untuk mengatur penggunaan kendaraan yang ada.
3). Belum memiliki garase di kampus untuk menyimpan kendaraan yang aman.
c. Pengembangan
Memperhatikan permasalahan tersebut sarana mobilitas yang dapat dikembangkan adalah :
1).Menyediakan sebuah kendaraan roda dua untuk mobilitas karyawan.
2). Menyediakan sebuah kendaraan roda empat untuk membantu kegiatan mahasiswa.
3). Dibuat aturan khusus tentang tatacara penggunaan dan pemeliharaan kendaraan.
4). Dibangun garase di tempat yang aman untuk menyimpan kendaraan.

D. BIDANG ANGGARAN DAN SUMBER DANA.

1. Anggaran belanja
a. Pengembangan anggaran merupakan penunjang pokok dari kehidupan akademik, sebab berhasil tidaknya Institut Agama Islam dan Akafarma Sunan Giri Ponorogo sangat bergantung pada besar kecilnya anggaran yang dapat diusahakan.
Anggaran belanja Insuri dan Akafarma dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu anggaran pembangunan fisik untuk menambah sarana dan prasarana, anggaran rutin untuk gaji dosen, karyawan dan kebutuhan sehari-hari termasuk alat tulis kantor dan anggaran penunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu untuk melakukan penelitian, pengabdian masyarakat dan kegiatan kemahasiswaan.
Yang menjadi permasalahan ialah :
1). Belum ada pembuatan rencana anggaran untuk masing-masing lembaga itu dan tidak ada
pengawasan dari fihak yayasan.
2). Yayasan belum mengatur anggaran baik untuk pembangunan fisik, maupun operasional.



c. Pengembangan.
Untuk lebih melancarkan dan menyehatkan kehidupan akademik maka perlu bidang ini dikembangkan sebagai berikut :
1). Yayasan mengatur secara luas tentang pengelolaan anggaran, baik untuk pembangunan fisik
maupun operasional.
2). Yayasan melakukan pengawasan secara terus menerus melalui laporan yang dilakukan
secara rutin baik Insuri maupun Akafarma.
3). Tiap awal tahun akademik selalu disusun Rencana anggaran untuk satu tahun kedepan,
dengan memperhatikan kondisi dan kemampuan yang ada.
4). Anggaran untuk kesejahteraan dosen dan karyawan perlu ditingkatkan, sehingga dapat
menambah semangat untuk melakukan pengabdian di Insuri maupun Akafarma.

Sumber dana.
Pengelolaan anggaran belanja sangat erat kaitannya dengan sumber dana. Dari sumber dana
yang kecil akan diperoleh anggaran belanja yang kecil pula. Apabila sumber dananya besar maka akan diperoleh anggaran belanja yang besar. Sampai saat ini sumber dana yang diperoleh hampir seluruhnya dari sumbangan mahasiswa baik melalui SPP maupun lainnya. Sumber dana lain pernah diperoleh dari masayarakat dan pemerintah, baik pemerintah Kabupaten , Propinsi maupun Pusat dan tidak rutin.
b. Karena keterbatasan dana inilah maka timbul beberapa masalah :
1). Anggaran belanja yang disusun sangat terbatas dan relatif kecil.
2). Gaji / Honorarium dosen dan karyawan relatif kecil dibandingkan dengan gaji/honorarium
Perguruan tinggi lainnya, dan sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.
3). SPP yang diperoleh dari mahasiswa sering terlambat bahkan ada yang diantara mereka
meminta keringanan karena dari keluarga yang tidak mampu atau mengabdi di pendidikan
dibawah pembinaan LP Ma’arif.
c. Pengembangan
Untuk mendapatkan perubahan yang lebih baik maka dalam bidang ini perlu dikembangkan hal-hal sebagai berikut :
1). Mengusakan sumber dana diluar SPP mahasiswa secara rutin, misalnya dengan membuka
usaha atau menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang bersedia mengucurkan
dananya ke yayasan.
2). Yayasan memantau penyusunan rencana anggaran, baik dari Insuri maupun Akafarma, bila
perlu lembaga yang kekurangan dana disuplai dari yayasan sebagai penyelenggara
Perguruan tinggi.
3). Yayasan membuat aturan tentang sistem penggajian dosen, karyawan dan tunjangan jabatan
struktural, sehingga terdapat keseragaman di semua lembaga binaan yayasan.
4). Yayasan melakukan pengawasan secara rutin untuk menjaga kemungkinan dari
penyimpangan yang dilakukan oleh pengelola Perguruan Tinggi.
5). Menambah partisipasi sumber dana non SPP mahasiswa.






























B A B IV
P E N U T U P

A. KESIMPULAN
Berikut ini disajikan gambaran yang menyeluruh mengenai Rencana Induk Pengembangan Perguruan Tinngi Sunan Giri Ponorogo sebagaimana yang telah diuraian pada bab terdahulu sebagai berikut :

Bidang Kelembagaan.
a. Dalam bidang ini rencana yang dikembangkan adalah :
1). Membuka program Diploma II PGSD/MI di Insuri
2). Membuka program Diploma III Analis Farmasi di Akademi
3). Membuka Program studi umum lainnya yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Meningkatkan menejemen pengelola dan pimpinan di semua tingkat.
Meningkatkan kualitas dan kesejahteraan dosen, khususnya dosen tetap.
Meningkatkan skill/kemampuan kerja dan kesejahteraan karyawan.
Meningkatkan kualitas dan kuantitas mahasiswa dengan menyuguhkan daya tarik kepada lulusan pendidikan menengah ( SMU,SMK,MA dan MAK)
Meningkatkan kualitas lulusan dengan berbagai pengembangan pengetahuan dan teknologi.
Meningkatkan aktifitas mahasiswa dengan pembinaan dan koordinasi kepada semua fihak secara intensif.

Bidang Akademik
Mengusahakan untuk bertambahnya jumlah Program Studi baru.
Melakukan peninjauan kembali terhadap kurikulum yang berlaku dan silabusnya.
Mingkatkan proses belajar mengajar dengan menertibkan disiplin tatap muka, intensitas pembinaan tugas terstruktur, menertibkan penyusunan SAP dan lain-lain.
Meningkatkan kemampuan dosen di bidang penelitian dengan jalan menyediakan anggaran yang cukup.
Mingkatkan pengabdian kepada masyarakat dengan lebih erat berkoordinasi melalui pemerintah Kabupaten dan tokoh-tokoh masyarakat.

Bidang Sarana dan Prasarana
Memanfaatkan lahan yang sudah dimiliki secara lebih efektif dan efisien.
Mengusahakan bertambahnya ruangan untuk menunjang program akademik, baik ruang kuliah, pimpinan, administrasi maupun unit-unit kegiatan lainnya.
Meningkatkan perpustakaan dengan menambah koleksi buku, menyediakan ruang yang memadai, pelayanan yang cepat dan tepat serta pegawai yang cukup.
Menambah laboratorium untuk meningkatkan kualitas lulusan yang lebih baik.
Menambah sarana mobilitas untuk meningkatkan pelayanan mahasiswa dan menjalin hubungan dengan fihak luar.

Bidang Anggaran dan Sumber Dana.
Yayasan mengatur secara luas perencanaan dan pengelolaan anggaran yang berlaku, dengan diterbitkannya berbagai aturan sesuai dengan kebutuhan.
Yayasan lebih memperhatikan kesejahteraan dosen dan karyawan untukmemacu kerja yang lebih baik.
Yayasan menyamakan terhadap sistem pengelolaan anggaran kepada semua Perguruan Tinggi yang diselenggarakan olehnya.
Yayasan menggali sumber dana diluar SPP dan sumbangan mahasiswa secara rutin untuk menunjang kegiatan pengelolaan Perguruan tinggi yang diselenggarakannya.
Yayasan melakukan pengawasan yang lebih intensif terhadap pengelolaan anggaran Perguruan Tinggi yang diselenggarakannya.

KOORDINASI PELAKSANAAN
Agar Rencana Induk Pengembangan ini dapat dilaksanakan sesuai dengan yang diharapkan maka pelaksanaannya memerlukan koordinasi dengan berbagai fihak yang saling terkait, antara lain:
Fihak yayasan selaku penyelenggara selalu berkoordinasi kedalam yaitu antara Pembina, PenDosens dan Pengawas dan keluar yaitu dengan pengelola Perguruan Tinggi yaitu : Rektor dan Direktur.
Fihak pengelola Perguruan tinggi yaitu: Rektor selalu berkoordinasi dengan para Pembantu Rektor, Dekan, Senat Institut dan Kepala Biro , sedangkan Direktur berkoordinasi dengan Pembantu Direktur, Kepala unit - unit kegiatan yang ada.
Dekan berkoordinasi dengan Pembantu Dekan, Ketua Jurusan, Senat Fakultas, Bagian Admistrasi dan para Dosen.
Semua fihak harus saling bahu membahu melaksanakan dan mengawasi serta mengevaluasi RIP ini sehingga kekurangannya dapat dijadikan untuk acuan menyusun RIP dimasa mendatang.


PROGRAM TAHUNAN
Oleh karena RIP ini disusun untuk jangka lima tahunan, maka agar dapat dilaksanakan secara efektif perlu dijabarkan kedalam Program Tahunan, sehingga pelaksanaan, pengawasan dan evaluasinya dapat dilaksanakan secara terus menerus.
Program tahunan didasarkan pada usulan pengelola Perguruan tinggi yang dibuat tiap menjelang awal tahun akademi baru dalam rangka mengevaluasi kegiatan satu tahun yang sudah lalu dan merencanakan kegiatan tahun depan. Format program tahunan akan disajikan tersendiri terpisah dengan RIP ini.

MONITORING DAN EVALUASI
Kegiatan monitoring akan dilaksanakan secara berkala, sedikitnya tiga bulan sekali yang dilaksanakan oleh penDosens yayasan bersama Rektor dan Direktur. Sedangkan evaluasi secara berkala dilaksanakan sedikitnya setahun sekali. Tiap lima tahun dilaksanakan evaluasi secara menyeluruh dalam rangka menyusun RIP periode berikutnya. Tim monitoring dan evaluasi ditetapkan bersama anatara penDosens yayasan dengan pimpinan Perguruan tinggi
.